Tekanan Berlebih Picu Burnout pada Anak, Orang Tua Perlu Waspada

  • 26 Apr 2026 21:09 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Fenomena burnout pada anak kini mulai menjadi perhatian, terutama pada anak yang terlihat “baik-baik saja” di permukaan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga fisik dan emosional anak jika tidak ditangani dengan tepat.

Psikolog Citra Amelia menjelaskan bahwa burnout merupakan kondisi kelelahan yang terjadi secara menyeluruh. “Burn out adalah kondisi permasalahan mental, fisik, dan emosional yang ekstrem. Ini terjadi biasanya karena disebabkan anak mengalami stressful atau anak tidak diberikan jeda untuk dia beristirahat meskipun itu sejenak.”

Ia menambahkan bahwa tekanan yang berlebihan menjadi faktor utama penyebab burnout pada anak. “Burnout ini terjadi karena tingginya tuntutan yang diberikan kepada anak, mulai dari tuntutan belajarnya, tuntutan pencapaiannya, tuntutan prestasi, sehingga dia sudah tidak mampu lagi menampungnya.”

Menurutnya, tekanan yang dihadapi anak saat ini cenderung lebih besar dibandingkan sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari perubahan pola hidup dan ekspektasi orang tua di era modern. “Zaman sekarang, anak-anak itu tekanannya lebih besar dibandingkan yang dulu. Hal ini dikarenakan perkembangan zaman, anak-anak sudah mulai malas untuk belajar, buka buku, sehingga orang tua yang bekerja di luar sana berfikiran bahwa anak harus tetap les sepulang sekolah, lalu nanti les ini, les itu, terus malam lanjut lagi belajar mengulang. Itu yang menjadi salah satu penyebab burn out.”

Citra juga mengungkapkan bahwa burnout berpotensi mulai muncul pada anak usia 12 tahun ke atas. Selain tuntutan yang tinggi, faktor lain yang turut memengaruhi adalah anak yang sudah dimasukkan ke sekolah sejak usia terlalu dini.

Dalam menghadapi kondisi ini, peran orang tua menjadi sangat penting. Orang tua diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara tuntutan dan kebutuhan anak. “Orang tua menginginkan anak menurutinya tapi bukan berarti anak harus menuruti semuanya. disini orang tua harus balance atau seimbang.”

Ia menekankan bahwa orang tua perlu mendukung keinginan anak selama itu positif, sekaligus tetap memberikan arahan yang jelas terkait pendidikan.

Selain itu, orang tua juga disarankan untuk lebih peka terhadap kondisi emosional anak. Salah satunya dengan membiasakan bertanya tentang perasaan anak, bukan hanya fokus pada pencapaian akademik. Pendekatan ini dinilai lebih disukai anak dan dapat membantu membangun komunikasi yang lebih sehat.

Dalam menjaga kondisi anak, suasana emosional di rumah juga memiliki peran besar. “Persiapan mental orang tua juga penting. kalau anak ya ngikut orang tuanya. karena kalau orang tua bertanya yang baik maka anak juga akan menjawab yang baik. begitu pula sebaliknya.”

Dengan pendekatan yang lebih seimbang dan komunikasi yang baik, burnout pada anak diharapkan dapat dicegah sejak dini, sehingga anak tetap dapat berkembang secara optimal tanpa tekanan berlebihan.

Baca juga: Cara Mengatasi Burnout di Tempat Kerja agar Tetap Produktif

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....