Capaian Imunisasi Pontianak Turun, Hoaks Jadi Tantangan Serius
- 15 Apr 2026 11:14 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Capaian imunisasi dasar lengkap di Pontianak terus menurun dalam lima tahun terakhir, memicu kekhawatiran perlindungan kesehatan anak. Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat tren penurunan cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021 capaian berada di angka 59,4 persen, meningkat menjadi 73,1 persen pada 2022, namun kembali turun menjadi 70,6 persen di 2023, anjlok ke 54,1 persen pada 2024, dan hanya 54,3 persen pada 2025.
Memasuki April 2026, capaian imunisasi baru menyentuh 12,6 persen dari target 21,3 persen, sementara target tahunan ditetapkan sebesar 85 persen. Penanggung Jawab Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Linda Lestari, mengakui pihaknya harus bekerja ekstra keras untuk mengejar target tersebut.
“Kita harus bekerja keras untuk mencapai 21,3 persen itu, kebetulan momen ini bertepatan dengan Pekan Imunisasi Dunia, jadi kami kerja sama dengan CIC dan PAI untuk melakukan imunisasi kejar. Walaupun imunisasi kejar itu tidak memandang waktu dan harus dikejar, artinya kita mengejar bayi atau anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap di usia satu tahun ke bawah,”ujarnya di Pontianak, Rabu, 15 April 2026.
Linda menjelaskan, imunisasi dasar lengkap meliputi vaksin seperti BCG, HB nol, serta polio tetes yang diberikan hingga empat kali dengan interval satu bulan. Namun, rendahnya capaian imunisasi tidak lepas dari berbagai persoalan di lapangan. Salah satu faktor utama adalah maraknya hoaks atau informasi negatif yang beredar di masyarakat dan berdampak pada menurunnya kepercayaan terhadap imunisasi.
“Masyarakat seringkali langsung percaya tanpa mencari tahu kebenarannya ke tenaga kesehatan, sehingga informasi tersebut diterima mentah-mentah,” ujarnya.
Selain itu, pengambilan keputusan imunisasi dalam keluarga juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak hanya orang tua, peran kakek dan nenek kerap memengaruhi keputusan, yang dalam beberapa kasus justru menghambat pemberian imunisasi pada anak.
Padahal, imunisasi tidak hanya melindungi individu, tetapi juga berperan dalam membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity, yang sangat penting untuk melindungi kelompok rentan yang tidak dapat menerima imunisasi. Terkait isu halal dan haram, Linda menyebutkan tidak lagi menjadi faktor dominan penolakan, mengingat sudah adanya dukungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Sementara itu, Dokter Spesialis Anak, Wandi Nurfansi, menegaskan bahwa imunisasi merupakan langkah penting untuk melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya seperti campak, difteri, dan polio. Ia menambahkan, imunisasi tidak hanya mencegah penyakit, tetapi juga menghindarkan anak dari risiko kecacatan hingga kematian akibat penyakit menular.
“Dengan imunisasi, kita memastikan anak mendapatkan perlindungan kuat selama tumbuh kembang, sekaligus menciptakan kekebalan kelompok agar wabah bisa dicegah di masyarakat,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....