Dari Diagnosis hingga Follow-Up, Proses Medis Kanker Payudara

  • 13 Apr 2026 10:16 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kasus kanker payudara di Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan tren peningkatan yang semakin mengkhawatirkan. Penyakit ini tetap menjadi jenis kanker dengan jumlah penderita tertinggi pada perempuan, bahkan mulai ditemukan pada usia yang lebih muda. Peningkatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola hidup tidak sehat, paparan lingkungan, hingga faktor genetik. Selain itu, masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan dini turut memperparah kondisi tersebut.

Sementara itu, di Kalimantan Barat pada tahun 2025, tren peningkatan kasus kanker payudara juga terlihat cukup signifikan. Rumah sakit rujukan di wilayah ini melaporkan bertambahnya jumlah pasien setiap tahunnya, dengan sebagian besar datang dalam kondisi yang sudah cukup parah. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kanker payudara tidak hanya menjadi isu nasional, tetapi juga menjadi perhatian serius di tingkat daerah, termasuk di Kalbar.

Selain faktor medis, kondisi geografis dan keterbatasan fasilitas kesehatan di beberapa wilayah Kalimantan Barat turut memengaruhi tingginya angka penderita. Masyarakat di daerah terpencil seringkali mengalami kesulitan untuk mengakses layanan deteksi dini seperti pemeriksaan payudara klinis maupun mammografi. Akibatnya, diagnosis sering terlambat dan penanganan menjadi kurang optimal.

Secara klinis, penderita kanker payudara perlu menjalani langkah penanganan yang terstruktur di bawah pengawasan dokter spesialis, biasanya dokter onkologi. Tujuannya adalah memastikan diagnosis tepat, menentukan stadium penyakit, dan memilih terapi yang paling sesuai.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah pemeriksaan medis lanjutan (diagnosis pasti). Ini biasanya meliputi biopsi (pengambilan sampel jaringan tumor), pemeriksaan fisik, serta pencitraan seperti USG payudara, mammografi, atau MRI. Dari hasil ini, dokter akan menentukan jenis kanker dan tingkat penyebarannya (stadium).

Setelah diagnosis ditegakkan, pasien akan menjalani staging kanker, yaitu penentuan apakah kanker masih lokal di payudara atau sudah menyebar ke kelenjar getah bening atau organ lain. Staging ini sangat penting karena akan menentukan rencana pengobatan yang paling efektif.

Selanjutnya, dokter akan menentukan terapi utama, yang bisa berupa satu atau kombinasi dari beberapa metode. Umumnya meliputi operasi (pengangkatan tumor atau payudara), kemoterapi, radioterapi, terapi hormon, atau terapi target. Pilihan ini tergantung pada jenis kanker, stadium, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.

Selain terapi utama, pasien juga perlu menjalani perawatan pendukung (supportive care). Ini mencakup pengelolaan efek samping seperti mual, nyeri, kelelahan, serta dukungan nutrisi dan psikologis. Konseling juga penting karena kanker payudara sering berdampak pada kondisi mental pasien.

Terakhir, setelah pengobatan, pasien harus menjalani kontrol rutin (follow-up) untuk memantau kemungkinan kekambuhan dan menilai keberhasilan terapi. Pemeriksaan berkala sangat penting agar jika ada tanda kekambuhan, dapat segera ditangani sejak dini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....