Benarkah Skin Booster Kulit Mayat Aman untuk Wajah?
- 18 Sep 2026 08:05 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Belakangan ini, jagat media sosial dihebohkan oleh tren perawatan wajah baru yang menggunakan skin booster berbahan dasar jaringan kulit mayat. Istilah "kulit mayat" yang cukup mengerikan ini mendadak viral dan memicu perdebatan sengit di masyarakat. Banyak orang merasa penasaran ingin mencoba hasil instannya, namun tidak sedikit pula yang merasa ragu dan mempertanyakan keamanan dari pengobatan tersebut.
Dalam dunia medis, bahan yang digunakan pada perawatan ini sebenarnya bernama Acellular Dermal Matrix (ADM). Bahan ini diambil dari jaringan kulit donor manusia yang telah meninggal dunia, lalu diproses secara ketat di laboratorium khusus. Selama proses pengolahan, seluruh sel-sel donor dihilangkan hingga hanya menyisakan kerangka protein pendukung seperti kolagen. Jadi, cairan yang disuntikkan ke wajah pasien bukanlah potongan daging atau sel hidup, melainkan murni struktur protein.
Dari sudut pandang kesehatan, tujuan utama dari tindakan ini adalah untuk memicu regenerasi jaringan alami pada kulit. Kerangka kolagen yang disuntikkan berfungsi sebagai wadah bagi sel-sel kulit asli pasien untuk tumbuh kembali. Perawatan ini diklaim mampu merangsang produksi kolagen baru secara cepat, memperbaiki tekstur kulit yang rusak, mengisi bopeng akibat bekas jerawat, serta mengurangi tanda-tanda penuaan dini secara efektif.
Meski menawarkan hasil yang menarik, para ahli medis menekankan pentingnya faktor keamanan dan standar kebersihan yang ekstra ketat. Pengolahan jaringan kulit donor harus melalui proses sterilisasi tinggi agar terbebas dari bahaya penularan penyakit infeksius, seperti HIV atau Hepatitis. Oleh karena itu, masyarakat sangat disarankan untuk memastikan bahwa produk yang digunakan telah mendapatkan izin resmi dari badan pengawas obat dan makanan yang berwenang.
Sejumlah dokter spesialis kulit dan kelamin memaparkan bahwa skin booster berbahan ADM ini sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru di dunia kedokteran. Sebelum dipopulerkan untuk estetika wajah, bahan serupa sudah lama digunakan dalam bedah rekonstruksi, seperti menutupi luka bakar hebat atau memperbaiki cacat jaringan. Menurut pandangan ahli, tingkat penolakan tubuh (rejection rate) terhadap bahan ini cenderung rendah karena sel-sel donor yang bisa memicu respons imun sudah dibersihkan sepenuhnya.
Sebagai kesimpulan, tren perawatan ini memang terbukti memiliki manfaat medis yang kuat dan aman secara teoritis jika prosedur serta bahannya sesuai standar medis. Namun, calon pasien diimbau untuk tidak hanya ikut-ikutan tren yang viral tanpa edukasi yang cukup. Sangat penting untuk selalu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis kulit yang kompeten dan memastikan klinik yang dikunjungi menggunakan bahan yang sah serta steril demi menghindari efek samping yang tidak diinginkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....