Toxic Productivity, Saat Produktif Jadi Berbahaya

  • 23 Jan 2026 19:39 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Fenomena toxic productivity menjadi perhatian dalam program Ngobras (Ngobrol Bareng Komunitas Penyiar) yang mengudara pada Rabu, 21 Januari 2026. Program ini menghadirkan Aktivis Organisasi dan Youth Advocate M. Farras Zhafran serta Content Creator sekaligus mahasiswi semester akhir, Media Salsabilla yang kerap disapa Sasa, untuk membahas perbedaan antara produktif dan toxic productivity.

Dalam diskusi tersebut, toxic productivity disebut kerap berawal dari keinginan untuk selalu memenuhi ekspektasi dan menyenangkan orang lain. Kondisi ini dinilai berisiko mengganggu kesehatan mental jika tidak diimbangi dengan kemampuan menetapkan batasan. Karena itu, penting bagi individu untuk berani mengatakan “tidak” demi menjaga keseimbangan diri.

Sasa, mencontohkan penerapan saying no dalam pekerjaannya sebagai kreator konten. “Kalau untuk kerjaan sendiri, kita say no ketika ada brief atau ketentuan yang disampaikan itu tidak sesuai sama standar kita,” ujarnya. Menurutnya, menjaga standar kerja juga berarti menjaga kepercayaan audiens.

Sasa mengungkapkan bahwa belakangan ini banyak tawaran promosi produk yang tidak sejalan dengan nilai yang ia pegang. “Akhir-akhir ini yang sering datang itu brand pemutih, brand pelangsing, nah mereka itu rame yang minta paid promote seolah-olah aku pakai dan konsumsi produk itu. Sedangkan followers aku di instagram atau tiktok itu kan punya ‘trust’ ya kak. Percaya apa yang sasa pakai benar-benar sasa pakai. Sasa gak mau kalau karena paid promote 200-300 ribu tapi kehilangan trust dari followers,” katanya.

Sementara itu, M. Farras Zhafran menekankan bahwa saying no merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan mental. “Kalau tentang saying no sangat penting karena kita tidak selamanya perfect dan jika kita memaksakan itu akan berdampak buruk pada diri kita sendiri,” ucapnya. Ia menilai, menerima semua tanggung jawab tanpa mempertimbangkan kapasitas justru bisa menjadi bumerang.

Farras menjelaskan bahwa ketika seseorang dikenal memiliki kinerja baik lalu selalu mengatakan “ya” terus menerus, maka kelebihan tersebut dapat berubah menjadi kelemahan. “Capek lah, burn out lah, otak mentok, segala macam. Itu kan kendala kita dalam pekerjaan kan. Jadi, saying no itu sangat diperlukan untuk mental kita. Kita harus paham dengan kapasitas diri kita sendiri,” katanya, menegaskan.

Menutup diskusi, para narasumber menyampaikan pesan kepada pendengar agar lebih mengenali diri sendiri dan mengatur porsi aktivitas. “Teman-teman harus tau tujuannya apa dari yang dilakukan saat ini. Harus kenali diri sendiri,” ujar Sasa.

Senada dengan itu, Farras menegaskan, “Tidak ada yang bisa menemani diri kita selain diri kita sendiri,” sembari mengingatkan bahwa produktif bukan berarti jadwal harus padat, melainkan mampu mengelola waktu dan energi agar tetap sehat secara fisik dan mental."

Baca juga: Anak Muda Soroti Hukum dan Mental

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....