Tantangan Mental Gen Z dalam Arus Digital Modern

  • 10 Des 2025 16:28 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Program Pro 2 Pontianak kembali menghadirkan topik kesehatan yang dekat dengan kehidupan anak muda. Dalam Program acara Spada - Toserba “Mental Health Matters : Tantangan Genz Dan Cara Menghadapinya”, Jum’at (5/12/2025), dr. Siti Hani Amiralevi, M.M. berbincang mengenai tantangan kesehatan mental generasi Z, terutama di tengah derasnya arus digitalisasi dan media sosial.

Menurut dr. Hany, Gen Z tumbuh di lingkungan yang serba cepat dan terhubung, sehingga paparan informasi berlebihan (information overload) menjadi salah satu penyebab stres paling umum. “Media sosial itu seperti uang bermata dua. Kita hanya melihat highlight hidup orang, bukan realitanya,” katanya. Hal ini membuat banyak anak muda mudah membandingkan diri dan akhirnya merasa tertekan.

Ia juga menegaskan bahwa tekanan dari keluarga, sekolah, hingga pekerjaan menjadi faktor yang memperparah stres, dan jika tidak dikelola dapat berujung pada burnout dan bahkan depresi. Dalam dialognya, dr. Hany menjelaskan tiga tanda utama depresi, yakni amotivasi, anhedonia, dan an-energi.

Kasus yang paling sering ia temui di IGD adalah naiknya asam lambung akibat stres, terutama pada remaja dan anak muda yang datang dengan keluhan sesak, gemetar, dan nyeri ulu hati. “Sering kali, setelah ditanya, penyebabnya bukan sakit fisik, tapi habis bertengkar, diputuskan pacar, atau tekanan emosional lainnya,” ucapnya.

Selain itu, dr. Hany menyoroti perilaku Gen Z yang kerap membutuhkan validasi lewat unggahan media sosial. Meski tidak selalu salah, ia mengingatkan bahwa dorongan ini bisa menjadi sinyal bahwa seseorang sedang menghadapi tekanan psikologis yang tidak tersampaikan.

Dalam pembahasan mengenai lingkungan kerja, dr. Hany menjelaskan bahwa lingkungan toxic dapat menurunkan produktivitas hingga memicu keinginan untuk resign. Ia mendorong pemimpin untuk membangun komunikasi yang sehat dan tegas tanpa merendahkan bawahan. “Leader yang baik itu masuk lewat ‘pintu' karyawan, keluar lewat ‘pintu' dirinya,” katanya.

Menutup perbincangan, dr. Hany mengingatkan pentingnya mekanisme koping yang sehat, seperti olahraga, beristirahat, atau menyalurkan emosi dengan tepat. “Nangis itu manusiawi, tapi pastikan kita bisa bangkit lagi setelahnya,” ujarnya mengakhiri.

Baca juga: Gen Z Wajib Paham Pasal Krusial Dunia Digital!

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....