Menyambangi Multatuli Huis di Amsterdam

  • 10 Mei 2026 09:04 WIB
  •  Pontianak

RRI CO.ID, Pontianak: Museum Max Havelaar adalah museum yang khusus didedikasikan untuk Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, penulis buku atau novel Max Havelaar.

Bangunan eksotis di Negeri Belanda ini dikenal dengan Multatuli Huis atau Rumah Multatuli terletak di jantung Kota Amsterdam.

Aku secara khusus mengunjungi museum ini, yang awalnya adalah rumah kelahiran sang penulis di Korsjespoortsteeg, lingkungan Jordaan, Amsterdam, Netherlands.

Museum yang apik ini kurasa lebih menonjolkan sejarah dan koleksi terkait kehidupan sang penulis legendaris itu. Multatuli Huis di Amsterdam ini berfokus pada kehidupan dan karya Eduard Douwes Dekker.

Di halaman depannya kutemukan ada Patung Multatuli. Dengan sendirinya museum ini berada di tengah Amsterdam atau Torensluis. Kulihat ramai dikunjungi pelancong, tentu utamanya sebagai penghormatan atas karya kritik kerasnya terhadap kolonialisme di Hindia Belanda atau Indonesia.

Tidak jauh dari museum ini, berdiri Hotel Multatuli. Berada di area dekat patung, memperkuat jejak sejarah penulis tersebut di Amsterdam. Memang selain di museum ini, di Rijksmuseum Amsterdam yang sebelumnya telah kukunjungi, juga menyimpan "artefak penting" buku Max Havelaar.

Max Havelaar yang pertama kali terbit pada 1860, adalah novel satire legendaris karya Eduard Douwes Dekker dengan nama samarannya Multatulis, yang membongkar kekejaman sistem tanam paksa dan eksploitasi kolonial Belanda di Lebak, Banten, Indonesia.

Syafaruddin Daeng Usman bersama istri dan sahabat di Amsterdam setelah mengunjungi Multatuli Huis di jantung kota megah di Netherlands. (Foto: Din Osman)

Buku ini, kata sahabatku Henk yang menetap di Utrech Belanda, menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme dan memicu perubahan kebijakan kolonial Belanda, bahkan disebut sebagai "buku yang membunuh kolonialisme".

Multatuli yang berarti "aku telah menderita", menulis buku yang menghebohkan jagat Netherlands pada eranya, berdasarkan pengalamannya sebagai Asisten Residen di Lebak, Banten.

Novel ini, kata Henk bertutur lanjut, mengecam praktik korupsi dan penindasan yang dilakukan pejabat Belanda maupun lokal terhadap rakyat pribumi. "Buku ini berperan besar dalam mendorong kebijakan Politik Etis dan membuka mata publik Belanda akan realitas kejam di Hindia Belanda", imbuhnya.

Max Havelaar digambarkan sebagai pejabat Belanda yang idealis, ingin membela rakyat, namun akhirnya tak berdaya melawan sistem yang korup. Ceritanya berlatar belakang sistem tanam paksa yang menyengsarakan penduduk di Banten pada abad ke-19.

"Novel ini dianggap sebagai salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam sejarah kolonialisme Indonesia", paparnya sembari memberikan satu buku terbitan terbaru kajian mengenai novel ini. (***)

Penulis: Syafaruddin Daeng Usman

Baca juga: Menikmati Menara Eiffel di Malam Hari

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....