Bahaya Phishing dan Pentingnya Kerahasiaan OTP

  • 12 Des 2025 23:07 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Peningkatan pengguna aktivitas digital internet oleh masyarakat Indonesia yang kini mencapai 202 juta pengguna tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga membuka celah kejahatan siber semakin masif. Demikian dikatakan Dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Pontianak, Wanty Eka Jayanti.

“Kegiatan diskusi bertajuk ngobrol santai jaga jejakmu, praktik aman di ruang digital oleh Forum Pena Digital bersama Indosat Ooredoo Hutchison bisa menjadi jembatan sosialisasi kepada masyarakat. Sebab saat ini tak sedikit masyarakat yang terkena penipuan digital,” ujar Wanty di Pontianak, Jumat (12/12).

Dalam paparannya dia menjelaskan soal digital safety mulai dari ancaman dan pencegahan. Dia menyoroti bahwa keamanan digital bukan sekedar menjaga data, melainkan juga melindungi harta benda dari tindak penipuan.

Oleh sebab itu pengguna aktivitas digital untuk mewaspadai phishing dan modus penipuan. Ada beberapa modus dilakukan oleh oknum dalam kejahatan digitalisasi. Seperti kejahatan siber, mulai dari cyber bullying, scamming, identity theft, hingga judi online (judol).

“Salah satu ancaman terbesar yang sering menjebak masyarakat adalah phishing. Modus mereka menggunakan taktik phishing untuk mencuri informasi pribadi. Masyarakat diimbau untuk tidak mengklik tautan atau lampiran dari sumber yang mencurigakan atau tidak dikenal, serta memverifikasi keaslian situs web sebelum memasukkan data sensitif," ujarnya.

Selain itu, ia juga menekankan bahaya mengunduh aplikasi sembarangan. Mengunduh aplikasi dari sumber tidak resmi (di luar Google Play Store atau iOS App Store) sangat beresiko karena dapat menjadi pintu masuk bagi malware atau phishing.

Lebih dalam kata dia, OTP adalah kunci rahasia dalam sesi tersebut, Wanty memberikan penekanan khusus mengenai One-Time Password (OTP). Ia mengingatkan bahwa kode OTP adalah benteng keamanan transaksi digital yang bersifat sangat rahasia.

Di hadapan puluhan peserta, dia memberikan tips praktis pengamanan mandiri mulai dari manajemen password, hindari Wifi publik untuk transaksi, Jangan pernah mengakses akun perbankan atau melakukan transaksi keuangan saat terhubung ke jaringan Wi-Fi publik yang tidak aman. Kemudian jaga privasi lokasi hindari penggunaan fitur geotagging atau membagikan lokasi secara terbuka di media sosial untuk menghindari penguntitan atau kejahatan fisik.

Ketua Forum Pena Digital Alvia Alhadi mengatakan kegiatan edukasi atau pun meliterasi banyak kalangan perlu digencarkan. “Kita semua mengakui bahwa teknologi digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, membuka peluang besar dalam komunikasi, ekonomi, dan pendidikan. Namun, layaknya dua sisi mata uang, kemudahan ini juga disertai dengan risiko dan ancaman yang semakin kompleks. Jejak digital kita adalah identitas permanen yang perlu kita jaga dengan penuh kesadaran. Makanya Pencegahan adalah kunci, dan kita perlu memahami langkah-langkah konkret yang harus kita ambil,” katanya.

Yang tidak kalah penting, peran strategis perusahaan telekomunikasi seperti Indosat, yang diketahui saat ini Indosat telah meluncurkan dua inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI): Tri AI dan Satspam. Sebagai informasi, Satspam akan jadi tameng pengguna IM3, sedangkan Tri AI diperuntukan pelanggan Tri Indonesia. (oki)

Baca juga: Lawan Hoaks Lewat Literasi Digital dan Konten Positif

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....