Budaya Daerah di Tangan Generasi Z

  • 19 Okt 2025 11:34 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Program TOSERBA (Topik Serba Ada) RRI Pro 2 Pontianak edisi Rabu (15/10/2025) menghadirkan obrolan menarik bertema “Gen Z dan Pelestarian Budaya Daerah.” Dalam acara yang dipandu oleh Erna ini, narasumber Kharan dari Family Research Center membahas bagaimana generasi muda berperan menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi digital.

Menurut Kharan, generasi Z memiliki potensi besar dalam mempopulerkan kembali kearifan lokal, asalkan mampu memanfaatkan teknologi dengan arah yang tepat. Ia menilai media sosial bukan ancaman, melainkan sarana baru untuk menghidupkan kembali semangat berkebudayaan di era modern.

“Kalau kita mau bicara pelestarian budaya, sebenarnya bukan soal siapa yang tua atau muda, tapi siapa yang peduli,” ujar Kharan.

Ia menambahkan bahwa kepedulian terhadap budaya dapat tumbuh dari hal-hal sederhana seperti mengenal tradisi, bahasa daerah, hingga mendukung konten budaya di media digital.

Lebih lanjut, Kharan mengungkapkan bahwa pola pikir Gen Z yang terbuka justru menjadi modal penting untuk mengadaptasi nilai-nilai budaya tanpa kehilangan esensi aslinya.

“Budaya itu bukan benda mati. Ia akan selalu hidup kalau kita mau mengenalnya dan menjadikannya bagian dari keseharian,” ujarnya.

Kharan menekankan pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam menjaga warisan budaya. “Anak muda jangan hanya jadi penonton. Jadilah pelaku budaya, walau lewat cara yang kekinian,” katanya.

Menurutnya, banyak bentuk pelestarian yang bisa dilakukan, mulai dari membuat konten edukatif di media sosial, hingga menggelar kegiatan komunitas berbasis tradisi.

Obrolan berdurasi satu jam itu juga menyoroti bagaimana perubahan gaya hidup dan teknologi dapat menjadi peluang, bukan ancaman. Melalui pendekatan kreatif, budaya lokal bisa tampil relevan dengan dunia anak muda tanpa kehilangan nilai aslinya.

Menutup perbincangan, Kharan berharap agar Gen Z tidak hanya bangga pada budaya lokal saat momen tertentu saja, tetapi menjadikannya bagian dari identitas diri sehari-hari. “Cinta budaya itu bukan nostalgia. Itu cara kita memastikan siapa diri kita sebenarnya,” ucapnya.

Baca juga: Gen Z dan Etika di Dunia Digita

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....