Pebulitangkis Putri Asal Pontianak Kandas Babak Kualifikasi Indonesia Masters
- 01 Sep 2026 20:24 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Langkah ganda putri asal Kota Pontianak, Steviolin Marcella, bersama Sarah Daisy Theresia Christina Rambitan harus terhenti di babak kualifikasi Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026.
Tampil di hadapan publik sendiri di GOR Terpadu Ahmad Yani Pontianak, Selasa, 1 September 2026, Steviolin/Sarah harus mengakui keunggulan pasangan sesama Indonesia, Aqelatul Amaliyah Rahma/Wilia Renasya Renasya.
Pertandingan berlangsung cukup ketat pada gim pertama sebelum akhirnya Steviolin/Sarah kalah 21-23. Memasuki gim kedua, pasangan tersebut belum mampu membalikkan keadaan dan kembali kalah 13-21.
Meski gagal melangkah lebih jauh, penampilan Steviolin Marcella menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat Pontianak. Pasalnya, perempuan kelahiran Kota Khatulistiwa tersebut menjadi salah satu putri daerah yang mendapat kesempatan tampil di turnamen bulutangkis level BWF World Tour Super 100 di kota sendiri.
Steviolin Marcella mengaku pertandingan menghadapi pasangan satu negara tersebut berlangsung tidak mudah. Terlebih pada gim pertama, kedua pasangan saling kejar poin dan tidak pernah terpaut jauh.
“Gim pertama cukup ketat dan selisih poinnya tipis. Beberapa kali kami melakukan smash, tetapi lawan tidak mudah mati,” ujar Steviolin Marcella.

Bermain di hadapan publik Pontianak memberikan pengalaman tersendiri bagi Steviolin. Namun, ia berusaha tidak memberikan tekanan berlebihan kepada dirinya sendiri.
Menurutnya, kesempatan tampil di turnamen sebesar Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 justru menjadi pengalaman penting untuk meningkatkan kemampuan.
“Aku enggak terlalu banyak tekanan. Yang penting aku berpikir bagaimana bisa bermain dengan baik. Karena aku tahu pertandingan di sini juga tidak mudah karena lawan-lawan yang dihadapi memiliki kemampuan yang bagus,” katanya.
Polytron Pontianak Indonesia Masters 2026 menjadi turnamen Super 100 pertama yang diikuti Steviolin dan Sarah sebagai pasangan.
Keduanya juga masih tergolong pasangan baru. Steviolin Marcella mengatakan mereka baru sekitar dua hingga tiga bulan berpartner.
Meski waktu persiapan relatif singkat, keduanya berusaha memaksimalkan latihan untuk menghadapi persaingan yang lebih tinggi.
“Untuk menghadapi turnamen Super 100 ini, kami melakukan persiapan ekstra. Dalam sehari kami bisa latihan dua kali, sama seperti teman-teman yang lain,” ungkapnya.
Steviolin menegaskan dirinya tidak kecewa dengan hasil pertandingan. Baginya, tampil di turnamen level Super 100 di kampung halaman menjadi pengalaman berharga, terlebih ia dapat merasakan langsung atmosfer pertandingan internasional di hadapan masyarakat Pontianak.
“Ini juga pertama kalinya saya dan Sarah bermain di turnamen Super 100. Kami tidak kecewa dengan hasilnya karena sudah berusaha dan bermain maksimal,” tuturnya.
Menariknya, Steviolin dan Sarah sebelumnya merupakan pemain tunggal. Peralihan ke nomor ganda membuat keduanya masih membutuhkan banyak waktu untuk beradaptasi.
“Karena kami berdua merupakan pemain tunggal. Jadi, ketika beralih bermain ganda, kami masih harus banyak belajar dan beradaptasi dengan pola permainan ganda,” jelas Steviolin.
Ia menyebut salah satu evaluasi yang akan dilakukan setelah turnamen adalah meningkatkan kekuatan pukulan.
Steviolin merasa dirinya dan Sarah masih memiliki kekurangan dari sisi power. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena postur tubuh keduanya relatif kecil.
“Untuk evaluasi ke depan, saya dan Sarah mungkin akan lebih meningkatkan power. Kami berdua merasa masih kurang dari sisi power sehingga harus bekerja lebih keras. Apalagi postur tubuh kami relatif kecil, jadi memang membutuhkan tenaga ekstra,” katanya.
Sementara itu, Sarah menjelaskan kondisi shuttlecock di lapangan turut memengaruhi pola permainan mereka.
Shuttlecock yang dirasakan cukup lambat membuat Steviolin/Sarah tidak bisa terus memaksakan permainan cepat. Mereka akhirnya lebih banyak memainkan bola lambung untuk membangun serangan dari awal.
“Iya, karena shuttlecock-nya cukup pelan. Kalau kami langsung bermain cepat, pukulan tersebut juga tidak mudah menghasilkan poin. Jadi, mau tidak mau kami harus kembali memainkan bola lambung dan membangun serangan dari awal,” jelas Sarah.
Strategi tersebut, menurut Sarah, cukup menguras tenaga sepanjang pertandingan.
Meski harus tersingkir, pengalaman Steviolin tampil di kandang sendiri pada turnamen BWF World Tour Super 100 menjadi modal penting bagi perkembangan atlet putri Pontianak.
Ia kini memiliki pengalaman menghadapi atmosfer pertandingan internasional dengan level persaingan yang lebih tinggi.
Bagi Steviolin, perjalanan di Indonesia Masters 2026 mungkin berhenti di babak kualifikasi. Namun, kesempatan tampil di depan publik Kota Pontianak menjadi pengalaman yang dapat menjadi pijakan untuk berkembang lebih jauh.
Sebagai atlet asal Pontianak, ia berharap dapat terus meningkatkan kemampuan dan kembali mendapat kesempatan tampil di turnamen-turnamen besar berikutnya.
Kehadiran Steviolin juga menjadi gambaran bahwa Pontianak tidak hanya menjadi tuan rumah pertandingan internasional, tetapi juga memiliki atlet daerah yang mampu bersaing dan tampil di panggung bulutangkis level dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....