Jalan Trans Diblokade, Bupati Turun Langsung Temui dan Dengarkan Keluhan Warga

  • 02 Sep 2026 14:29 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Kubu Raya - Warga Desa Pancaroba, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, memblokade Jalan Trans Kalimantan sebagai bentuk protes terhadap pengerjaan peningkatan jalan yang menimbulkan debu cukup parah dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Bupati Kubu Raya, Sujiwo, yang mengetahui aksi tersebut langsung mendatangi lokasi untuk mendengarkan keluhan warga sekaligus menenangkan masyarakat. Ia kemudian mengajak warga bermusyawarah untuk mencari solusi atas persoalan yang telah berlangsung selama beberapa bulan tersebut.

Sujiwo mengatakan, persoalan pengerjaan jalan tersebut bukan merupakan pekerjaan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, melainkan berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Jalan Nasional. Namun demikian, sebagai kepala daerah, dirinya tetap berkewajiban merespons keluhan masyarakat.

"Setelah saya melihat persoalannya, wajar kalau rakyat itu marah, masyarakat itu marah," ujar Sujiwo, Rabu, 2 September 2026.

Menurutnya, kondisi jalan yang berdebu tidak bisa dibiarkan karena berdampak langsung terhadap kesehatan dan kenyamanan warga yang tinggal di sekitar lokasi maupun pengguna jalan.

Ia bahkan melihat sendiri dampak debu yang cukup parah terhadap lingkungan sekitar. Sejumlah tanaman warga yang seharusnya berwarna hijau terlihat berubah kecokelatan akibat tertutup debu.

"Saya tadi baru masuk saja sudah melihat. Daun ubi warnanya coklat, daun mangga warnanya coklat, daun keladi warnanya coklat. Harusnya kan warna hijau, hijaunya hilang tertimpa oleh debu," katanya.

Sujiwo juga menyoroti tidak optimalnya penyiraman jalan selama proses pengerjaan. Berdasarkan keterangan warga, jalan tersebut disebut telah berbulan-bulan tidak mendapatkan penyiraman secara rutin sehingga debu beterbangan ketika kendaraan melintas.

Ia menegaskan, masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi tidak seharusnya terus-menerus menanggung dampak debu dari pekerjaan konstruksi.

"Saya hanya beberapa jam di sini sudah terasa batuk. Bagaimana mereka berbulan-bulan? Ini tidak boleh seperti itu," tegasnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Sujiwo meminta pelaksana pekerjaan segera melakukan penyiraman jalan mulai hari itu juga. Penyiraman diminta dilakukan hingga kondisi jalan cukup basah dan padat sehingga debu tidak kembali beterbangan.

Selain itu, ia meminta pelaksana segera menindaklanjuti kesepakatan terkait pengaspalan jalan yang sebelumnya telah ditandatangani. Sujiwo menyatakan akan berkoordinasi dengan Balai Jalan Nasional untuk memastikan pekerjaan pengaspalan segera dilaksanakan.

"Mulai hari ini, Pak Deddy, pelaksana, minta tolong untuk dilakukan penyiraman sejauh ini, sampai basah, sampai padat supaya tidak ada debunya," ujarnya.

Di tengah aksi pemblokiran, Sujiwo bersama Kapolres juga meminta masyarakat membuka kembali akses jalan demi kepentingan umum. Ia meminta warga tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri maupun masyarakat pengguna jalan.

"Saya bilang, Bapak, Ibu, masyarakat, tolong dibuka. Jangan menyandera seperti ini. Yang penting jalan ini dibuka. Tetapi mereka ini marah, wajar. Sangat wajar. Kalau saya pun pasti marah," katanya.

Setelah dilakukan dialog dan musyawarah, warga akhirnya membuka kembali blokade sehingga arus lalu lintas di Jalan Trans Kalimantan dapat kembali berjalan.

Sujiwo menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Desa Pancaroba dan sekitarnya, perangkat dusun, RT, RW, camat, kepolisian serta seluruh pihak yang turut membantu menjaga situasi tetap kondusif.

Ia menegaskan akan mengawal persoalan tersebut secara serius bersama Kapolres Kubu Raya. Bahkan, dirinya berjanji akan memantau perkembangan tindak lanjut kesepakatan tersebut setiap hari.

"Saya akan kawal bersama Pak Kapolres. Saya akan kawal secara serius dan saya akan pantau setiap hari berkaitan dengan kesepakatan itu," tegasnya.

Sujiwo berharap pelaksana segera melakukan pengaspalan jalan. Sembari menunggu proses pengaspalan, penyiraman atau pembasahan jalan diminta dilakukan setiap hari agar masyarakat tidak terus terkena dampak debu dari aktivitas konstruksi.

Menurutnya, Jalan Trans Kalimantan merupakan jalur vital yang digunakan masyarakat dari berbagai wilayah, sehingga kelancaran dan keamanan pengguna jalan harus tetap menjadi perhatian bersama.

"Memang tugas kita ini untuk rakyat, apalagi untuk kepentingan masyarakat Kalbar yang lewat di sini," pungkasnya. (DiskominfoKKR/IKP)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....