Roblox Dilarang, Komisi X Dorong Reformasi Literasi
- 12 Agt 2025 21:06 WIB
- Pontianak
KBRN, Jakarta: Maraknya konten digital yang tak terbendung membuat anak-anak kian rentan terpapar risiko, mulai dari kekerasan visual hingga informasi menyesatkan. Kondisi ini kembali menjadi sorotan setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menggulirkan wacana pelarangan gim Roblox bagi anak-anak.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, melihat langkah itu sebagai sinyal kuat bahwa pendidikan karakter digital harus segera diperkuat melalui kurikulum sekolah. “Literasi digital penting untuk ada di kurikulum sekolah sebagai bagian dari pendidikan karakter di era digital. Maka kami mendorong Kemendikdasmen untuk menyusun kerangka kurikulum literasi digital yang responsif terhadap realitas sosial anak-anak masa kini,” ujarnya di Jakarta, Senin (11/8/2025).
Ia menekankan, tantangan yang dihadapi generasi muda di dunia maya kini semakin kompleks, dari kecanduan gawai, penyebaran hoaks, pencurian data pribadi, hingga jebakan algoritma media sosial. Menurut politisi Fraksi PKB ini, literasi digital tak cukup hanya soal keterampilan teknis. “Literasi digital bukan proyek penyuluhan teknologi, tetapi proyek peradaban yang menentukan kualitas demokrasi dan kemanusiaan masa depan,” tegasnya.
Agar kurikulum benar-benar efektif, Lalu mendorong keterlibatan beragam pihak, psikolog, pendidik, komunitas digital, hingga anak-anak dan remaja itu sendiri, dalam penyusunannya. Ia mengingatkan, materi tidak boleh sekadar dipenuhi jargon, melainkan harus membumi. “Kurikulum yang baik bukan hanya sarat jargon digital, tetapi juga kontekstual, misalnya bagaimana remaja menilai informasi keliru di media sosial, memilih tayangan sesuai usia, serta mengontrol waktu layar,” jelasnya.
Menurutnya, sekolah harus bertransformasi dari sekadar pusat transfer ilmu menjadi ruang pembentukan karakter digital. “Yang dibutuhkan anak-anak bukan hanya bisa pakai teknologi, tapi tahu kapan tidak dipakai,” ucap legislator dari Dapil Nusa Tenggara Barat II itu.
Bagi Lalu, perubahan kurikulum ini adalah momentum reformasi pendidikan untuk melahirkan generasi yang cakap teknologi sekaligus tahan terhadap paparan negatif dunia digital. “Anak-anak tumbuh dalam ekosistem yang didominasi konten visual, validasi sosial, dan interaksi instan. Mengajarkan mereka sekadar bisa pakai teknologi sama saja membiarkan mereka menjelajahi jalan bebas hambatan tanpa rambu-rambu,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, ia kembali menegaskan esensi literasi digital sebagai bekal kritis menghadapi dunia maya. “Anak-anak harus memahami bahwa tidak semua yang viral itu benar, tidak semua yang gratis itu aman, dan tidak semua yang disukai algoritma itu layak diikuti,” pungkasnya.
Wacana larangan Roblox ini menjadi alarm bahwa tanpa pendidikan karakter digital yang kuat, generasi muda akan terus berjalan di jalur berisiko tanpa pelindung yang memadai.
Sumber: Parlementaria
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....