Kenangan Waktu Berhaji
- 24 Mei 2026 09:22 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Pengalaman haji tidak sama bagi setiap orang. Untuk sejuta orang jemaah haji misalnya, masing-masing mempunyai pengalaman yang berbeda satu sama lain. Biasanya, pengalaman haji itu bersangkut paut dengan sifat atau tingkah laku jemaah sendiri.
Dulu, tahun 1980-an, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar dan tinggal di kampungku, di Ngabang, seringkali melihat tetangga atau keluarga mengadakan pengajian, terutama saat si empunya rumah hendak pergi ke Tanah Suci menunaikan ibadah haji. Beberapa hari kemudian, ramai orang mengantar ke Pontianak calon jemaah haji itu dengan isak tangis. Seakan mereka yang pergi ke Tanah Suci tak akan kembali pulang lagi.
Itulah pengalaman masa kecil yang muncul di benakku, saat mempersiapkan diri untuk berhaji tahun 1996. Aku tak merasa khawatir bakal pergi ke Mekkah dan tak kembali ke Pontianak, karena dari kenangan masa kecil itu, para keluarga dan tetangga yang pergi haji semuanya kembali dengan wajah sumringah. Lalu mengapa pula aku mesti risau?
Pergi haji masa kini serba praktis. Bekal yang diperoleh lewat beberapa kali mengikuti manasik haji dan membaca buku-buku tentang haji, cukup membuat hati mantap menunaikan rukun Islam yang terakhir ini. Sebagai jemaah calon haji aku memiliki keyakinan bahwa semua ibadah, dzikir, doa, dan permohonan ampun pasti dikabulkan Allah SWT. Pikirku, bukankah aku ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Nya?
Labbaikallahhumma labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik. Innalhamda wanni'mata laka walmulka laa syariikalak. Aku datang memenuhi panggilan Mu Ya Allah, tiada sekutu bagi Mu. Ya Allah aku penuhi panggilanmu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah bagi Mu semata. Segenap kerajaan untuk Mu, tiada sekutu bagi Mu ...
Tiba di Mekkah setelah perjalanan panjang dari Tanah Air, aku langsung menunaikan ibadah umrah. Kelelahan perjalanan seakan hilang begitu melihat Ka'bah berada di depan mata. Aku merasa amat dicintai Allah hingga diizinkan melihat langsung Ka'bah, kiblat shalat yang selama di Indonesia tak pernah tampak langsung di depan mata.
Nikmatnya shalat langsung di depan Ka'bah merupakan campuran perasaan bersyukur, takjub, sekaligus kecil di antara sekian banyak orang yang memenuhi Masjidil Haram.
Setiba di Tanah Suci status pun berubah menjadi tamu Allah, yang Maha Rahman dan Rahim. Sebelum memasuki rumah Allah, Baitullah, sebagai tamu Nya, seperti juga jemaah calon haji lainnya aku terlebih dahulu membersihkan batin dan memperbaharui imam serta bertekad menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah semata.
Selain dosa yang sebanyak pasir dan buih lautan, pengalaman dan pengetahuan agama Islam yang kumiliki juga kurasakan sangat minim. Aku berpikir, dalam keadaan bergelimang dosa, aku datang memenuhi panggilan Nya. Untuk itu, apa pun yang terjadi aku ikhlas menerima ganjaran dari Allah, baik dalam perjalanan haji di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Jarak Jeddah-Madinah sekitar 425 km, Jeddah-Mekkah sekitar 107 km, Mekkah-Madinah sekitar 498 km, dan Mekkah-Arafah sekitar 25 km. Rentangan jarak tersebut hanyalah sebagian dari kegiatan dan perjalanan yang harus ditempuh. Padahal kegiatan ibadah haji bukan hanya untuk menjalani jarak tersebut dengan jalan darat saja, tetapi juga kegiatan-kegiatan fisik lain yang menguras tenaga.
Kata Almarhum Bapakku, oleh karena itu, jika syarat sudah terpenuhi, pergilah haji selagi masih muda. Kesiapan mental dan fisik yang kuat merupakan faktor penunjang dalam pelaksanaan ibadah haji, bahkan sudah mulai sejak persiapan di Tanah Air.
Di hadapan Baitullah hatiku langsung mencelos, rasanya malu sekali. Tak terasa aku menangis sambil memandang Ka'bah. Aku merasa begitu kejam, tak tahu berterima kasih, dan tak bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah selama ini. Seketika itu aku merasa ada tangan menepuk-nepuk perlahan pundakku.
"Ya Allah, ampuni aku. Ya Allah, jadikanlah aku senantiasa menjadi makhluk Mu yang selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Engkau berikan", ucapku berulang kali sambil terus menangis dan memandang Ka'bah.
Ada hal atau kenangan menarik ketika aku melaksanakan wukuf di Arafah, dan bertemu dengan sepasang suami-istri muda, yang mengaku bekerja di pabrik tekstil di Tangerang. Bersama dua orang rekan lainnya, mereka berjalan kaki dari Makkah ke Padang Arafah dan ketika ditemui sekitat pukul 05.10 mereka baru saja tiba di depan Masjid Al Namirah.
Tidak saja suami-istri ini, ribuan jamaah haji lainnya juga berjalan kaki menuju Padang Arafah. Sekitar pukul 08.15 waktu setempat ketika itu, Arafah sudah dipadati hampir dua juta jamaah. Rombongan kami tiba di Arafah dengan bus full AC, dikawal mobil sekuriti yang tidak henti-hentinya membunyikan sirene meminta jalan. Suatu yang kontras memang.
Kekaguman muncul kembali ketika aku menyaksikan sejumlah warga Mali dari Afrika tanpa biaya hidup tiba di Arafah. Diantarkan kendaraan reyot yang sudah pantas menjadi besi tua, mereka tiba di Arafah. Kulihat, di antara penumpangnya ada yang sudah uzur, cacat lahir, dan buta sejak lahir. Subhanaallah ...
Setelah selesai melaksanakan ibadah haji ataupun umrah, jemaah biasanya dibawa berziarah ke sejumlah tempat bersejarah di Tanah Suci. Suatu hari rombonganku dibawa berziarah ke sejumlah tempat bersejarah yang ada di sekitar Mekkah, termasuk tempat wukuf di Arafah, yang saat itu sudah tidak dihiasi tenda-tenda lagi.
Sebelum kembali ke hotel tempat menginap, aku dan rombongan melintasi kawasan bukit berbatu, Jabal Nur. Letak tempat ini sekitar 6 kilometer sebelah Timur Laut Ka'bah. Di bagian puncak Jabal Nur ini terdapat satu gua kecil yang dikenal dengan nama Gua Hira. Di gua batu inilah Rasulullah Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama, yaitu awal Surat Al Alaq (ayat 1-5).
Sepertinya aku adalah peminat yang mendaki Jabal Nur, atau Bukit Cahaya. Pendakian di tengah siang bolong itu cukup menguji ketahanan fisik dan keteguhan mental. Di awal pendakian saja aku sudah dihadapkan pada jalan menanjak yang membentuk sudut lebih dari 30 derajat. Jalannya sendiri relatif lebar dan aman, namun semakin ke atas perjalanan semakin menuntut kehati-hatian dan kecerdikan. Sebab, selain tempat itu terjal sehingga berisiko tinggi untuk tergelincir. Sementara usia para pendaki pun beragam.
Perjalananku ke puncak bukit tersebut memakan waktu lebih kurang satu jam. Sebelum tiba di puncak Jabal Nur, waktu itu ada satu tempat peristirahatan yang cukup leluasa untuk melepaskan dahaga dan tentu melepaskan pandangan ke sekelilingnya.
Di puncak Jabal Nur banyak hal yang menarik perhatian. Sejumlah orang berdesakan untuk mencoba masuk ke Gua Hira. Juga nampak ada sejumlah peziarah yang melakukan shalat sunat di tempat itu.
Kenangan tak terlupakan bagiku, ketika itu dari puncak Jabal Nur, langit sedang dalam keadaan bersih tanpa awan, dan siang hari itu terlihat Masjid Haram secara samar-samar. Aku saat itu sangat menikmati segarnya udara di bukit Jabal Nur. Alhamdulillah, aku telah mencapai bukit simbol datangnya cahaya petunjuk bagi umat manusia, yakni di Jabal Nur.
Dan tentu ingatan yang tak akan lekang bagiku, adalah ziarah ke makam Rasulullah. Semangat yang paling tepat bagiku untuk datang ke makam Rasul adalah mengikuti apa yang diperintahkan Allah SWT di dalam Al Qur'an Surat Al Ahzab, 33: 56, "Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bershalawat kepada Nabi. Oleh karena itu wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atas Nabi dan berilah doa keselamatan untuk memperoleh kesejahteraan (salam) atas diri Nabi".
Shalat di Masjid Nabawi, demikian HR Ahmad, Ibnu Huzaimah dan Hakim, lebih utama 1.000 kali dibanding shalat di masjid lainnya, kecuali di Masjidil Haram.
Terdorong sabda Rasulullah Muhammad SAW itulah, didorong pula kerinduan yang sangat mendalam terhadap Rasulullah dan bahkan didorong kerinduan pada Masjid Nabawi sendiri, aku dan umat Islam yang menunaikan ibadah haji merasa tidak akan paripurna kehadirannya di Tanah Suci bila tidak berziarah ke makam Rasulullah di Masjid Nabawi yang terletak di pusat Kota Madinah Al Munawwarah.
Bagiku, bahkan sebelum memasuki Kota Madinah, perasaan berbunga-bunga dan haru telah meliput kalbu. Ini sebabnya sekalipun perjalanan darat dari Maklah Al Mukarammah yang sekitar lima jam untuk menempuh jarak kedua kota sekitar 498 km itu, meski cukup melelahkan, aku segera berwudlu untuk selekasnya bisa ke Masjid Nabawi.
Inilah masjid yang amat indah dan megah. Seingatku, meski dalam jadwal rombongan ibadah Arbain, shalat fardlu 40 kali tanpa putus di Masjid Nabawi, baru dimulai subuh keesokan hari, tapi aku memulainya malam itu juga.
Berada di dalam masjid ini, perasaan yang muncul tidak ada yang lain kecuali damai, haru, dan dekat pada Allah, serta cinta yang bertambah-tambah pada Rasulullah Muhammad SAW. Bagiku, selebihnya adalah rasa kagum yang tak habisnya pada masjid yang memiliki arsitektur, eksterior, dan interior yang luar biasa indah ini.
Dengan telah kuziarahi makam Rasulullah SAW, telah shalat di Raudlah, manjalankan shalat Arbain, dan menikmati keberadaan Masjid Nabawi, sekaligus mengagumi keindahan arsitekturnya, maka lega rasanya aku meninggalkan kota yang juga dijuluki Madinat al Nabi, Kota Nabi.
Pengalamanku melaksanakan ibadah haji memang banyak, namun barangkali menikmati kesejukan ibadah di Masjid Nabawi dan merasakan panas terik luar biasa di Mina dapat menyimpulkan pengalaman tersebut.
Mina, setiap tahun hanya ramai pada waktu jemaah haji mabit, bermalam beberapa hari saja. Selebihnya, kota tua tempat Nabi Ibrahim melempari setan pengganggu dan tempat Nabi Ibrahim akan menyembelih putranya, Nabi Ismail, itu merupakan kota sunyi senyap tanpa penghuni.
Selesai melaksanakan wukuf, berdiam di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah, setiap tahun sekitar dua juta jemaah haji secara serentak dan dalam waktu hampir bersamaan selepas shalat Maghrib, bergerak menuju Mina yang letaknya sekitar lima kilometer dari Arafah, untuk mengumpulkan batu kerikil pelempar jumrah di Mina.
Sedari berangkat dari Makkah untuk melaksanakan wukuf di Arafah pada 8 Dzulhijjah, dan seterusnya di Mina, jemaah haji memang kurang istirahat. Mungkin itulah sebabnya, dulu Almarhum Bapakku menganjurkan agar berhajilah selagi fisik masih kuat. Dan rasanya benar-benar anjuran yang patut diperhatikan dan dituruti.
Alhamdulillah, rasa suka cita mengiringi hampir semua kegiatan ibadahku selama di Tanah Suci. Allah SWT mengabulkan doaku dan doa kedua orangtuaku sehingga aku dapat mencium batu hitam Hajar Aswad yang berada di salah satu sudut Ka'bah pada saat aku melakukan tawaf umrah setiba dari Madinah.
Untuk dapat mencium batu hitam ini dibutuhkan perjuangan keras. Puluhan bahkan mungkin ratusan ribu jemaah haji yang sedang tawaf, tak terkecuali aku, mempunyai niat dan keinginan yang sama untuk mencium Hajar Aswad. Ada yang berhasil dan ada pula yang belum.
Ketika pertama kali berusaha mendekati Hajar Aswad, tubuhku yang tak seberapa berisi nyaris lumat terinjak-injak gelombang massa yang juga sama berusaha mencapai batu hitam ini. Di Rukun Yamani aku bermunajat kepada Allah SWT kiranya mengizinkan aku untuk mencium batu yang juga pernah dicium Nabi Muhammad SAW itu. Alhamdulillah, aku diperkenankan Nya untuk leluasa menyorongkan kepala dan muka ke cekungan batu licin tandas beraroma semerbak wangi tersebut.
Akhirnya, aku merasa malu kepada Rasulullah Muhammad SAW karena ajaran agama yang telah disampaikannya belum dapat aku amalkan sebagaimana mestinya. Rasanya Beliau SAW itu masih hidup dan melihat kelakuanku. Duhai Rasul, hamba mohon syafaatmu guna membebaskan diriku ini dari azab dan siksa api Neraka.
Begitulah, pengalaman setiap orang menunaikan ibadah haji pasti berbeda-beda. Aku pun mengalami hal yang mungkin belum pernah dialami oleh jemaah haji lain. Aku amat bersyukur diberikan nikmat oleh Nya. Al Qur'an, surat An Nahl ayat 18 menyebutkan, "Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman, sejarawan dan budayawan Kalbar
Baca juga: Labirin Cinta di “Chateau Du Versailes”
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....