Menjelajah Musik dan Kopi ala Nizar

  • 26 Nov 2025 10:00 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Sosok musisi muda Pontianak, Nizar Rahmadi, hadir sebagai narasumber dalam program Music Preneur di RRI Pro 2 Pontianak. Program acara tersebut tayang pada Jumat lalu, 14 November 2025, dan disiarkan langsung melalui YouTube RRI Pro 2 ini, menghadirkan tema Local Musician, Entrepreneur, Creative, khusus membahas perjalanan kreatif dan kiprah pelaku musik lokal.

Di tengah kesibukan bekerja dan bermain musik, sosok Nizar tetap menunjukkan antusiasme besar terhadap dunia kopi. Meski mengaku belum mahir sepenuhnya, ketertarikannya pada industri F&B terbangun dari pengalaman bekerja dan eksplorasi otodidak. Ia menyebut proses belajar itu muncul karena kebutuhan pekerjaan, bukan dari kursus formal.

“Enggak, karena kan tuntutan kerja aja sih sebenarnya. Jadi, harus mau enggak mau ngulik kan,” ujarnya.

Ketertarikannya pada kopi berawal dari kebiasaan ngopi sejak sebelum bekerja di coffee shop. Nizar mengaku mulai memahami rasa dan karakter espresso dari waktu ke waktu. Ia mulai menyukai kopi hitam yang memiliki karakter tertentu.

“Sebenarnya kalau Americano itu kan ada notes gitu kan. Di espresso itu ada notes biasanya ada yang fruity,” katanya

Meski demikian, ia belum memiliki ambisi besar untuk membuka kedai kopi sendiri. Menurutnya, bekerja di balik bar sudah cukup menyenangkan sekaligus memberinya ruang untuk menyeimbangkan aktivitas lain di luar pekerjaan. Baginya, tetap menjadi barista justru membuatnya lebih leluasa mengerjakan berbagai hal, termasuk aktivitas bermusik yang kini sudah menyatu dengan kesehariannya.

Dalam perjalanan bermusik, nama Nizar cukup dikenal di kalangan skena lokal. Ia memulai band sejak SMP melalui band hardcore legendaris pelajar pada masanya, Brother Gun. Ketertarikannya tumbuh dari fenomena skena hardcore Pontianak yang kala itu sedang berada pada masa keemasan.

“Jujur waktu itu tren gigs-nya skenanya hardcore. Pontianak Pride parah,” kata Nizar mengenang masa awalnya.

Setelah Brother Gun, ia berlanjut ke proyek berikutnya bersama teman-teman SMA lewat band Westland. Grup ini sempat merilis beberapa lagu dan dikenal dengan sentuhan pop punk serta elemen biola dalam beberapa materi awalnya. Meski kini vakum, hubungan antarpersonel tetap terjalin baik.

“Westland itu diaktif akun. Kayaknya masih aman-aman aja sih cuma kurang silaturahmi,” ucapnya.

Dalam dunia musik, perjalanannya tak berhenti. Ia kini aktif bersama Djayas Band dan beberapa kali berpindah peran, dari bass ke gitar. Meski bisa memainkan beberapa instrumen, ia mengaku paling nyaman memegang gitar.

“Sebenarnya di gitar sih paling nyaman, walaupun enggak jago juga,” tuturnya.

Menariknya, di luar hardcore dan pop punk, belakangan ini Nizar juga mulai mengembangkan perhatiannya pada hip-hop lokal. Ia bahkan menyebut beberapa nama sebagai rujukan penting dalam prosesnya mengenal skena tersebut.

Ketertarikan itu bermula dari rasa FOMO, namun perlahan berubah menjadi apresiasi terhadap musik dan budaya fesyennya. Baginya, perkembangan tren yang semakin beragam membuat batas antar-genre kini terasa jauh lebih cair dan mudah bersinggungan.

Meski menaruh sejumlah rencana musik termasuk kemungkinan proyek baru bersama beberapa rekan musisi, Nizar Rahmadi menegaskan semuanya masih dalam tahap wacana. Yang pasti, eksplorasi kreatif akan terus berjalan seiring berkembangnya referensi dan pengalaman.

Baca juga: RJ is Jimmy Bicara Mistisisme dan Musik

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....