Penulis Pontianak Angkat Budaya Lokal Lewat Buku Tsanja Berisi Cerpen
- 24 Jul 2026 06:24 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Penulis muda asal Kalimantan Barat, Anna Mardhiya, menghadirkan karya sastra bertajuk Tsanja, sebuah buku antologi berisi sembilan cerita pendek yang mengangkat kehidupan masyarakat Pontianak, budaya Melayu, hingga isu-isu perempuan. Melalui karya tersebut, ia ingin menghadirkan warisan literasi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendokumentasikan kehidupan lokal bagi generasi mendatang.
Anna Mardhiya mengungkapkan, ketertarikannya pada dunia menulis berawal sejak duduk di bangku SMP. Kegemarannya membaca novel sastra klasik membuatnya kerap menciptakan akhir cerita versinya sendiri sebelum akhirnya mulai menulis karya orisinal.
"Perjalanan menulis sebenarnya sudah dari SD atau SMP. Awalnya saya sering membaca novel dan merasa ending-nya kurang sesuai dengan harapan, akhirnya saya menulis versi akhir cerita saya sendiri. Dari situ saya mulai tertarik menulis cerita sendiri," ujar Anna Mardhiya dalam program Kita Indonesia RRI Pro 1 Pontianak, Kamis, 23 Juli 2026.
Menurut Anna, judul Tsanja sering menimbulkan rasa penasaran pembaca. Banyak yang mengira merupakan plesetan dari kata "senja", padahal nama tersebut merupakan singkatan dalam bahasa Melayu Pontianak yang berarti "Tang Sini Adik Nunggu Janji Abang."
Buku Tsanja memuat sembilan cerita pendek yang berdiri sendiri. Sebagian besar mengangkat latar Kota Pontianak, mulai dari kawasan penyeberangan Sungai Kapuas hingga kehidupan masyarakat sehari-hari yang dipadukan dengan perspektif perempuan.
"Tema yang saya angkat lebih banyak tentang Pontianak dan perempuan. Saya ingin pembaca merasakan suasana Pontianak, budaya, serta kehidupan masyarakatnya melalui cerita," katanya.
Salah satu cerpen dalam buku tersebut terinspirasi dari pengalaman Anna saat menyeberangi Sungai Kapuas menggunakan sampan di kawasan pelabuhan Seng Hie. Pengalaman sederhana itu kemudian berkembang menjadi kisah fiksi yang menggambarkan suasana pelabuhan, kehidupan masyarakat sungai, hingga cerita cinta masa lalu.
Anna menjelaskan, proses penerbitan buku berlangsung selama beberapa bulan. Naskah yang diterbitkan merupakan kumpulan cerita yang sebelumnya tersimpan di komputer pribadi, kemudian dipilih dan direvisi hingga menjadi sembilan cerita terbaik.
| Baca juga: Ghea Indrawari Rilis Music Video "Daun-Daun" |
"Karena ini buku pertama saya, saya memilih cerita-cerita yang menurut saya paling layak dibukukan agar pembaca mendapatkan karya terbaik," ujarnya.
Bagi Anna, tantangan terbesar dalam menulis bukan hanya menemukan ide, tetapi juga memastikan data dan latar yang digunakan sesuai dengan kondisi nyata, terutama ketika mengangkat lokasi yang benar-benar ada di Pontianak.
Selain itu, ia menilai kemampuan menulis bukan sekadar bakat, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari melalui latihan dan kebiasaan membaca.
"Dulu saya mengira menulis itu bakat. Tapi setelah bergabung dengan komunitas dan belajar bersama banyak penulis, saya percaya menulis adalah keterampilan yang bisa diasah," ungkapnya.
Di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (AI), Anna mengakui teknologi dapat membantu penulis dalam mencari referensi maupun berdiskusi mengenai ide. Namun, menurutnya karya sastra tetap membutuhkan sentuhan emosi manusia.
"AI bisa membantu, tetapi sastra membutuhkan rasa atau feel. Itu yang tidak dimiliki mesin," katanya.
Melalui Tsanja, Anna berharap karya sastra dapat menjadi dokumentasi budaya yang mampu memperkenalkan wajah Pontianak kepada generasi mendatang.
"Kalau kita menulis tentang Pontianak, kita harus meriset dengan baik supaya tulisan itu menjadi warisan yang benar bagi generasi setelah kita," tuturnya.
Selain aktif menulis, Anna juga tergabung dalam Komunitas Perempuan Menulis Khatulistiwa (Kopermekha) yang menurutnya menjadi ruang belajar, berbagi ide, dan menjaga semangat berkarya bersama sesama penulis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....