Pesan Hidup Buku “Filosofi Rumah Tanpa Atap"

  • 10 Des 2025 16:56 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Buku Filosofi Rumah Tanpa Atap karya Caroline Tjen, menjadi bahan perbincangan hangat di Program Nongkrong Pro 2 RRI Pontianak, Senin (8/12/2025), yang dipandu Host, Erna dan Naufal. Menurut Caroline, buku ini lahir dari pengalaman pribadi sang penulis sebagai perantau, anak broken home, dan mantan sandwich generation, yang kemudian ia tuangkan menjadi kisah reflektif penuh pesan kehidupan.

Dalam dialognya, Caroline menjelaskan bahwa ide buku tersebut justru muncul dari sebuah rumah di proyek yang sedang ia awasi sebagai konsultan properti. “Jadi, ada satu rumah, yang lain sempurna cuma satu ini doang atapnya bolong. Itu tiba-tiba masuk ke otak saya,” ucapnya, menjelaskan awal metafora “rumah tanpa atap”.

Caroline kemudian mengaitkan pengalaman tersebut dengan curhatan sahabatnya yang sedang tertekan secara finansial dan mental. Kondisi itu membuatnya semakin kuat membangun narasi buku. Ia berkata, “Teman saya itu curhat mau bunuh diri, dia terjepit karena jadi tulang punggung keluarga.”

Kisah pribadi penulis juga menjadi fondasi kuat dalam pembangunan cerita. “Saya seorang broken home, saya juga perantau, saya juga jadi sandwich generation. Lengkap nih satu bungkus cerita saya,” ujarnya.

Proses menulis membuatnya kembali kepada masa lalu yang berat. Namun, sarat pembelajaran.

Bagi Caroline, rumah tanpa atap adalah simbol ketidaksempurnaan hidup yang justru bisa menjadi kekuatan baru. “Atap itu saya filosofikan sebagai perlindungan. Tapi sebagai rooftop kita bisa berbeda, punya kebebasan,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa meski hidup tidak sempurna, manusia tetap bisa memilih menjadi “rooftop” yang indah bagi dirinya sendiri.

Proses penulisan yang dimulai Juli dan terbit pada 5 Desember itu juga menghadirkan momen mendalam bagi Karoline. Salah satunya ketika ia membahas rindu kampung halaman.

“Sebagai perantau, ternyata rindu rumah itu hanya masalah psikologis. Kita bisa mengatasinya dengan mencari suasana yang mirip di kota rantau,” tuturnya.

Buku ini juga menyinggung persoalan ekonomi, karmic cycle hubungan keluarga, hingga persoalan pasangan bagi mereka yang memikul tanggung jawab besar. “Kalau kamu jadi sandwich generation, carilah pasangan yang setara secara finansial dan pemikiran. Jalannya akan lebih mudah,” ujarnya.

Menutup perbincangan, Caroline memberikan pesan kuat untuk generasi muda yang mungkin merasa hidupnya tidak sempurna. “Jangan cari lagi yang sempurna, kamu akan capek. Walaupun hidup ini tidak sempurna, kamu tetap bisa bangun fondasi sendiri,” ucapnya menguatkan pendengar, sembari menutup dialog Buku Filosofi Rumah Tanpa Atap tersebut.

Baca juga: Buku Ketemu Kopi, Lahir Komunitas Isi Bukumu

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....