Lengking dan Tabuh Tanjidor di Tanah Khatulistiwa

  • 16 Okt 2025 18:50 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Penghujung minggu identik dengan berbagai acara yang membawa kebahagiaan. Mulai dari pesta pernikahan hingga festival, semua acara dihiasi dengan gemerlap cahaya dan lantunan nada yang merdu. Pengeras suara ditumpuk tinggi menjulang, menyerukan suara musik modern yang menenggelamkan berbagai deru di jalanan.

Kemajuan zaman memberikan solusi praktis bagi masyarakat dalam mencari hiburan untuk suatu acara. Di tengah puluhan semarak yang terjadi, ada lantunan klasik bergema di sudut gang yang lain. Tabuhan tambur serta lengkingan alat tiup besi, yang terdengar sayup namun seakan menolak untuk punah.

Paduan tersebut dikenal dengan nama Tanjidor. Diciptakan oleh Augustijn Michiels atau Mayor Jantje di abad ke-19, perpaduan dari trompet, saksofon, trombon, snare dan bass drum ini terbentuk dari akulturasi antara budaya Betawi dan Portugis.

Penamaan “tanjidor” sendiri memiliki dua versi. Versi yang pertama berasal dari kata “tangedor” yang berarti alat musik dalam bahasa Portugis, namun secara perlahan berubah menjadi tanjidor karena penyebutan oleh orang lokal. Versi yang kedua berasal dari bahasa Betawi, yakni “tanji” yang berarti menabuh dan adanya bunyi “dor” dari tabuhan tersebut. Dari perpaduan tanji dan bunyi dor, orang-orang betawi menyebutnya dengan nama tanjidor.

Meskipun tidak berasal dari Pontianak, tanjidor tetap dikenal sebagai salah satu hiburan yang terikat dengan perayaan ataupun penyambutan. Akademisi UPGRI Pontianak yang juga sejarawan, Karel Juniardi, menjelaskan bagaimana tanjidor mulai masuk ke Pontianak.

“Jadi, sejarah masuknya tanjidor di Pontianak atau Kalimantan Barat pada umumnya karena pada masa kolonial Nelanda dahulu hubungan antara Batavia dengan Pontianak khususnya yang berada di pesisir barat, pulau Borneo itu sangat intensif. Ada dua daerah yang mempopulerkan tanjidor, yakni Sambas karena kesamaan budaya dan Pontianak sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan. Namun, dalam perkembangannya, dikatakan bahwa tanjidor justru lebih populer di Sambas dibanding Pontianak pada waktu itu. Dari Sambas kemudian melebar sampai ke Pontianak. Jadi, ada dua daerah yang mempopulerkan tanjidor di Kalimantan Barat pada masa Belanda,” ucap Karel pada sesi wawancara di Universitas PGRI Pontianak, Selasa (14/10/2025).

Karel Juniardi diwawancara di Gedung Pascasarjana UPGRI Pontianak, Selasa (14/10/2025). (Foto: Dhiah Wiyarsih/Mahasiswi PKL FISIP Universitas Tanjungpura).

Ada beberapa perbedaan antara tanjidor Betawi dan tanjidor Pontianak. Salah satunya adalah lagu yang dimainkan dan pakaian yang digunakan. Tanjidor Pontianak akan memainkan lagu-lagu Melayu seperti Lancang Kuning dan Sungai Kapuas, kemudian para pemainnya akan memakai baju telok belanga. Di sisi lain, tanjidor Betawi akan memainkan lagu Betawi seperti Jali-Jali dan Sirih Kuning, serta menggunakan pakaian khas Betawi seperti baju sadariah dan beberapa aksesoris seperti sarung dan peci.

Di Pontianak, tanjidor biasanya dikenal sebagai hiburan dalam rangkaian acara pernikahan. Selain itu, status kota yang multietnis memperluas ranah pertunjukan tanjidor. Dengan kurang lebih 10 kelompok tanjidor yang masih eksis, tanjidor kini juga muncul dalam perayaan lain seperti peringatan hari jadi kota, pembukaan suatu usaha, hingga acara penyambutan tamu.

Hingga kini, tanjidor masih cukup digemari dan masih banyak yang melestarikannya. Salah satunya adalah Uray Ferry, pendiri kelompok Tanjidor Sumber Rejeki. Berawal dari kelompok kecil bernama Tiup Besi, Ia bersama beberapa temannya yang juga berkuliah di Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Musik Universitas Tanjungpura memutuskan untuk terus bermain tanjidor, bahkan setelah mereka lulus.

“Itu awal mulanya saat ada satu teman kami yang akan menikah dan ingin diarak menggunakan tanjidor. Dengan anggota Tiup Besi tadi, kami memutuskan untuk lanjut jadi Tanjidor Sumber Rejeki. Nah, nama Sumber Rejeki sendiri saya ambil dari satu bengkel. Dengan nama yang baik tersebut, kami juga berharap yang baik-baik, dan kami filosofikan juga dengan “kecil, namun ramai orangnya” gitu,” ucap Uray.

Uray Ferry saat diwawancara di SMAN 3 Pontianak, Senin (13/10/2025). (Foto: Nisrina Khalisha/Mahasiswi PKL FISIP Universitas Tanjungpura).

Tanjidor Sumber Rejeki resmi terbentuk pada tanggal 22 Desember 2018. Ketidaksengajaan yang dibalut dengan apresiasi penonton, ternyata memotivasi Uray dan teman-temannya untuk terus berkembang dengan Tanjidor Sumber Rejeki. Berbekal alat musik pribadi, kini perkumpulan ini telah memiliki lebih dari 20 anggota.

Proses latihan yang mereka lakukan juga tak kalah unik. Jika biasanya tim pemusik lainnya selalu melakukan latihan satu hari sebelum acara, tim Tanjidor Sumber Rejeki justru melakukan latihan tepat sebelum acara dimulai.

Enam anggota yang terpilih untuk tampil, akan berlatih di atas mobil bak terbuka saat menuju ke rumah mempelai perempuan ataupun di gedung pernikahan. Hal ini dilatarbelakangi oleh beragamnya pekerjaan setiap anggota, yang membuat mereka sulit untuk mengadakan pertemuan langsung di hari lain.

Layaknya perkumpulan tanjidor pada umumnya, Tanjidor Sumber Rejeki sering tampil sebagai hiburan pernikahan dan pembukaan usaha. Selain itu, mereka juga pernah tampil dalam festival pertunjukan seni yang berfokus pada hubungan manusia dan sungai, bernama Habe Fest yang diselenggarakan oleh Balaan Tumaan. Di acara tersebut, Tanjidor Sumber Rejeki menampilkan permainan tanjidor di atas sampan.

Kemudian dalam beberapa kesempatan lain, Tanjidor Sumber Rejeki juga pernah berkolaborasi dengan LAS! Band di cafe The Paw’s. Kolaborasi ini menghadirkan warna baru bagi Tanjidor Sumber Rejeki yang biasanya lekat dengan lagu-lagu Melayu. Mereka juga pernah tampil dan mengiringi tarian flashmob di acara perayaan 20 tahun KosongKosong.

Lagu andalan yang selalu mereka mainkan adalah lagu Tanjung Katung, yang mereka padukan dengan teriakan pantun. Uray merasa semua pertunjukan yang mereka lakukan selalu berhasil membawa kebahagiaan. Pria peniup trombon ini mengungkapkan setiap permainan selalu mendatangkan rasa puas dan lepas.

“Perasaan kalau main tanjidor itu lepas, karena tidak ada yang mengatur bagaimana kami bermain. Kami senang-senang saja, main sambil ketawa, sambil gurau-gurau. Apalagi di lagu tanjung katung yang biasa paling sering kita mainkan pada saat penutupan pertunjukan. Itu kita main sambil berpantun, sambil teriak-teriak.”

(Beberapa anggota Tanjidor Sumber Rejeki sebelum tampil di Aula Universitas Muhammadiyah Pontianak, Minggu (50/5/2024). (Foto: Tangkapan layar dari Instagram @tanjidorsumberrejeki).

Uray melihat adanya minat yang cukup tinggi terhadap pelestarian tanjidor di Pontianak. Oleh sebab itu, Uray dan anggota lain sepakat untuk terbuka terhadap orang yang ingin belajar maupun bergabung.

“Kami terbuka, cuma kadang keterbatasannya di alat. Kalau seperti alat tiup itukan berhubungan dengan mulut, jadi lumayan sensitif juga. Tetapi tidak menutup kemungkinan bagi siapapun yang ingin bergabung atau pengen mencoba bermain sama tanjidor sumber rejeki. Silahkan saja, kita terbuka dan kapanpun, dimanapun. Kami juga ada mengunggah beberapa penampilan ke Instagram dan Youtube untuk menarik minat dan memperkenalkan kayak “ada lho anak-anak muda yang main tanjidor”. Jadi jangan takut, istilahnya hajar-hajar jak. Asal ada alat, terus mau belajar, yuk kita gas.”

Keinginan terkait transformasi tanjidor sebagai sebuah kebutuhan dalam setiap acara besar di Pontianak menjadi mimpi Uray dan anggota lain untuk tanjidor di masa depan. Langkah yang diambil Tanjidor Sumber Rejeki menjadi salah satu contoh nyata dari peran anak muda dalam melestarikan kesenian tradisional di masa kini.

Penulis: Dhiah Wiyarsih/Mahasiswi PKL FISIP Universitas Tanjungpura).

Baca juga: Warna Kuning Hijau, Simbol Keagungan Budaya Melayu

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....