Warna Kuning Hijau, Simbol Keagungan Budaya Melayu
- 15 Okt 2025 19:15 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Dalam kebudayaan Melayu, warna bukan sekadar pilihan estetika. Di balik setiap corak, ada makna, sejarah, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.
Di antara beragam warna yang dikenal dalam masyarakat Melayu, kuning dan hijau menempati posisi istimewa. Dua warna yang menjadi lambang keagungan, spiritualitas, dan identitas budaya.
Komunitas Melayu Berbudaya, sebuah organisasi yang awalnya berdiri untuk melestarikan kegiatan budaya, kini juga aktif dalam kegiatan sosial. Namun, fokus utamanya tetap pada bagaimana budaya Melayu dapat terus hidup dan berkembang.
“Kami ingin orang semakin tertarik dan mau mengembangkan budaya Melayu bersama-sama,” tutur Herman, ketua umum KMB saat ditemui di Pontianak, Kamis (9/10/2025).
Dalam pandangan masyarakat Melayu, warna kuning dan hijau sudah lama melekat dalam kehidupan budaya. “Melayu itu identik dengan kuning dan hijau. Di mana pun, kalau Melayu pasti identiknya warna kuning dan hijau,” ujar Herman.
Warna kuning, katanya, adalah warna kejayaan. Sejak masa kerajaan-kerajaan di Nusantara, jauh sebelum masuknya Islam, warna ini sudah menjadi simbol kemegahan dan keagungan.
Warna kuning diambil dari filosofi matahari sumber kehidupan. “Kuning itu lambang kejayaan dan kemegahan. Seperti matahari yang memberi kehidupan,” katanya.
Kuning dahulu merupakan warna kerajaan dan kesultanan, hanya dipakai oleh raja dan bangsawan. Masyarakat biasa umumnya menggunakan warna kuning yang lebih sederhana seperti kuning emas atau kuning cerah.

Wawancara bersama Herman (kanan) dan Abdul Komar, Kamis (9/10/2025). (Foto: Muhammad Raherzy Fauzin/Mahasiswa PKL FISIP Universitas Tanjungpura)
Abdul Komar, penasihat KMB, menambahkan bahwa sejak masa kerajaan Melayu di Nusantara, warna kuning sudah menjadi warna sakral. “Sampai sekarang, dalam acara budaya seperti pernikahan, hadrah, dan upacara adat lainnya, orang Melayu memakai pakaian kuning. Ini warna sakral!” katanya, menegaskan.
Jika kuning adalah warisan zaman kerajaan, maka hijau adalah warna yang hadir setelah Islam datang ke Nusantara. “Hijau ini tambahan setelah masuknya ajaran Islam. Hijau ini penyeimbang. Warna ini melambangkan keseimbangan, spiritualitas, dan kaitannya dengan agama Islam," ujar Herman.
Dalam berbagai upacara adat, hijau menjadi warna yang mendampingi kuning. Namun, untuk benda-benda sakral, seperti dalam ritual cuci pusaka dan acara Robo-Robo, kain kuning tetap menjadi utama.
“Barang-barang sakral itu diikat atau dibungkus dengan kain kuning,” kata Herman. "Sementara hijau digunakan dalam konteks ritualitas keagamaan."
Harapan untuk melestarikan warna sebagai simbol budaya Melayu juga disampaikan kepada generasi muda. Pemerintah daerah, baik kota maupun provinsi, juga mengajak warga untuk mengenakan pakaian adat Melayu dalam perayaan hari ulang tahun daerah.
“Yang jelas kita diwajibkan memakai pakaian teluk belanga. Kalau bisa berwarna kuning. Tapi kalau warna lain pun tidak masalah,” kata Herman.
Ia berharap anak muda ikut mencintai warisan leluhur ini. “Kita berkewajiban meneruskan. Untuk mengajak anak-anak muda mencintai leluhurnya, pakaiannya, dan budayanya,” ujarnya.

Turiman berpose sambil memegang surat pemberian gelar 'Tengku Mulia Dilaga' dari Kesultanan Pontianak, Kamis (9/10/2025) (Foto: Muhammad Raherzy Fauzin/Mahasiswa PKL FISIP Universitas Tanjungpura)
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Tengku Mulia Dilaga Turiman Fachturahman Nur, sejarawan hukum Melayu. Ia menjelaskan secara mendalam makna warna dari perspektif kultural.
“Warna itu bukan sekadar estetika. Warna adalah simbol, tanda, atau kode yang punya makna mendalam,” katanya saat ditemui di kediamannya di Kubu Raya, Kamis (9/10/2025) pagi.
Menurutnya, warna dalam budaya masyarakat Melayu diambil dari pengamatan terhadap alam flora dan fauna yang dekat dengan kehidupan manusia. “Makanya warna itu terhubung dengan adat spiritual agama Islam dan Tingkatan sosial,” ujarnya. Warna kuning, hijau, menjadi warna utama dalam pakaian adat, arsitektur istana, dan upacara adat.
Di Kesultanan Kadriah Pontianak, warna kuning mendominasi bangunan istana. Warna ini melambangkan keagungan kerajaan, sementara hijau melambangkan spiritualitas Islam. Filosofi warna kuning dan hijau telah ada sejak abad ketujuh, berkembang dari masa kerajaan Hindu-Buddha hingga Islam masuk pada abad XIII M.
“Awalnya kuning melambangkan keagungan. Setelah Islam masuk, hijau menjadi warna dominan, lambang surga dan kesuburan,” ujar Tengku.
Dalam tradisi Melayu, raja dan wali tidak terpisah. Kuning menegaskan kedaulatan, hijau menegaskan spiritualitas. “Itu makna filosofinya,” katanya.
Warna kuning bukan hanya simbol kerajaan, melainkan juga lambang kehormatan, kebangsawanan, dan kewibawaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kuning dipakai dalam berbagai upacara adat.
Tanjak dengan tiga lipatan dipakai untuk sehari-hari, sedangkan empat lipatan menandakan gelar kehormatan “Tengku Mulia Diraja”. Simbolisme juga terdapat dalam pakaian adat. Di Kesultanan Kadriah Pontianak, kain selengka dengan benang emas menjadi ciri khas bangsawan.
“Kalau orang luar pakai corak insang. Tapi tidak apa-apa pakai kuning,” ucap Tengku.
Warna kuning juga mewarnai acara saperah atau musaprahan upacara adat Melayu. Sultan duduk di atas kain kuning bersulam, sebagai simbol kemuliaan dan keagungan.
“Kuning itu lambang kehormatan dalam upacara adat,” katanya, menegaskan.
Bagi masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat yang mayoritas Melayu, memahami makna warna kuning dan hijau dianggap penting. “Seharusnya kalau dia merasa puak Melayu, wajib mengetahui identitas itu,” kata Tengku. Seperti halnya etnik Dayak dengan warna merahnya, etnik Melayu memiliki makna dalam warna kuning dan hijau.
Merah maron juga digunakan sebagai warna tambahan. Warna ini melambangkan hubungan manusia dengan alam, sebagaimana terlihat dalam warna air serbat dan kuliner istana lainnya yang terbuat dari bahan-bahan alami.
Tengku menekankan, di era modern, kuning dan hijau bukan sekadar lambang, melainkan jiwa dari kesadaran Melayu. “Kuning itu mengajarkan kita memimpin dengan nur dan kehormatan. Hijau menuntun kita menjaga bumi dengan iman dan keseimbangan,” katanya.
Melayu memandang kehidupan melalui tiga hubungan utama: hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan alam. Warna menjadi pengikat nilai-nilai itu.
Kisah tentang warna kuning dan hijau ini bukan sekadar cerita tentang pakaian atau cat istana. Ini adalah cerita tentang warisan, tentang bagaimana sebuah komunitas menjaga identitasnya di tengah arus zaman. Dari masa kerajaan hingga era modern, kuning dan hijau terus hidup dalam pakaian adat, upacara, arsitektur, hingga cara masyarakat memaknai kehidupan.
“Warna ini mengikat kita dengan leluhur,” ujar Herman. “Dan tugas kita sekarang, memastikan warna itu tidak pernah pudar.”
Penulis: Mita Tantri Devi/Mahasiswi PKL IAIN Pontianak
Baca juga: Kesultanan Pontianak dalam Bingkai Ketatanegaraan & Budaya Indonesia
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....