UMKM Inklusif Buka Peluang Pasar, Perkuat Ekonomi Keluarga

  • 14 Apr 2026 21:23 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Perkembangan UMKM perempuan di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, menunjukkan tren yang cukup positif. Hal ini terlihat dari meningkatnya antusiasme pelaku usaha perempuan yang bergabung dalam Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) setempat.

“Kalau saya melihat geliat UMKM perempuan saat ini, itu cukup antusias. Terlihat dari banyak wajah-wajah baru yang bergabung bersama kita khususnya di Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Sungai Raya,” ujar Rini Rifa’atul Jannah, S.Pi, Wakil Ketua Umum 1 DPC IWAPI Sungai Raya.

Di IWAPI Sungai Raya, pelaku usaha perempuan menjalankan berbagai jenis usaha, mulai dari food and beverages (kuliner), jasa, kriya atau kerajinan tangan, hingga usaha penjahitan. Keberagaman ini menjadi potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Terkait konsep UMKM inklusif, ia menjelaskan bahwa inklusivitas berarti keterbukaan bagi semua pihak tanpa diskriminasi.

“Inklusif ini berarti UMKM yang terbuka, luas, dan bisa dijangkau oleh siapa saja, baik untuk pelaku UMKM itu sendiri, karyawan yang menjalankan usaha, maupun customer tidak kita banding-bandingkan ras, atau apapun. siapapun memiliki hak yang sama untuk melakukan usaha dan ketika sebuah UMKM itu bisa inklusif artinya peluang pasar terbuka lebar, maka keluarga pun produktif, dan masyarakat sejahtera," ungkapnya.

Digitalisasi menjadi langkah paling mudah untuk mewujudkan UMKM yang inklusif. “Kalau ciri-ciri inklusif itu berarti bisa dijangkau oleh siapapun, kalau yang paling gampang kita lakukan yaitu dengan digitalisasi, karena digitalisasi itu salah satu hal yang paling mudah dan murah yang bisa kita lakukan di era seperti ini," katanya.

Dengan memanfaatkan media sosial dan marketplace, pelaku UMKM bahkan dari desa dapat menjangkau pasar nasional hingga internasional. Dalam menjalankan usaha, perempuan juga dihadapkan pada tantangan membagi peran antara bisnis dan keluarga. Namun, keduanya dinilai tidak bisa dipisahkan.

“Bisnis dan keluarga itu satu kesatuan menurut saya, karena wanita yang mau berbisnis itu adalah wanita yang cinta pada keluarganya. karena kita menjadi penguat bagi suami kita untuk mendukung fondasi ekonomi keluarga," jelasnya.

Untuk menyeimbangkan peran tersebut, terdapat tiga kunci utama yang perlu diterapkan. “Untuk menjalankan ini saya mengatakan ada 3 kunci utama yaitu manajemen waktu, dimana kita harus punya waktu dimana waktu untuk berbisnis dan waktu untuk keluarga, yang kedua adalah delegasi, kita bukan superwoman. yang ketiga itu kerja sama, kerja sama ini di lingkup keluarga sendiri. keluarga produktif itu keluarga yang mau bekerjasama antara suami dan istri dan bahkan anak ke orang tua," tegasnya.

Ia juga mendorong perempuan untuk berani memulai usaha, meskipun merasa tidak memiliki modal. “Kadang orang berpikir, aduh mau usaha ndak punya modal, padahal kita sudah dikasih modal sama Tuhan. Modal utama kita itu otak untuk kita berpikir apa usaha yang bisa kita lakukan. Kemudian yang kedua itu indera kita, tangan dan kaki kita itu juga modal untuk kita bisa berusaha, dan satu lagi modal yang mudah saat ini yaitu digitalisasi. Dengan otak kita berpikir untuk cari peluang mana yang cocok untuk usaha kita, tangan kita untuk mengetik di media sosial atau untuk merekam, itu juga sudah jadi salah satu modal. mulailah dari sesuatu yang kita bisa, mulai dari sesuatu yang kecil," ungkapnya.

Dengan pemanfaatan teknologi, kerja sama keluarga, dan keberanian untuk memulai, UMKM perempuan diharapkan semakin berkembang dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....