BI Kalbar Waspadai Tekanan Global terhadap Stabilitas Rupiah

  • 30 Jun 2026 17:02 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Barat (Kalbar), Doni Septadijaya, mengatakan ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan utama bagi perekonomian nasional maupun daerah. Kondisi tersebut dipengaruhi inflasi global yang kembali meningkat, kebijakan moneter ketat di sejumlah negara maju, serta dinamika geopolitik dunia.

Dalam paparannya pada Media Bincang Ekonomi di Pontianak, Selasa, 30 Juni 2026, Doni menjelaskan tekanan inflasi global kini berada di kisaran 4,4 persen, dipicu masih tingginya harga berbagai komoditas dunia. Situasi tersebut membuat sejumlah bank sentral mempertahankan bahkan membuka peluang kembali menaikkan suku bunga kebijakan.

Di Amerika Serikat, Federal Funds Rate (FFR) saat ini masih dipertahankan pada level 3,50–3,75 persen. Pasar juga memperkirakan peluang kenaikan suku bunga masih terbuka apabila inflasi kembali meningkat.

Selain itu, imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat juga tetap tinggi. Yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat 4,49 persen, sedangkan tenor dua tahun berada di 4,18 persen per 17 Juni 2026. Tingginya imbal hasil tersebut mencerminkan masih kuatnya preferensi investor terhadap aset-aset berisiko rendah.

"Tekanan ekonomi global masih cukup tinggi. Inflasi dunia belum sepenuhnya turun sehingga sejumlah bank sentral tetap mempertahankan suku bunga tinggi. Kondisi ini perlu terus diwaspadai karena berpengaruh terhadap stabilitas nilai tukar dan arus modal," ujar Doni.

Doni menambahkan, penguatan Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) juga masih berlangsung. Kondisi itu membuat aliran modal global lebih banyak bergerak menuju aset safe haven, sementara arus investasi ke negara berkembang, termasuk kawasan emerging markets, masih relatif terbatas.

Menurutnya, dinamika negosiasi Amerika Serikat dan Iran serta berbagai ketidakpastian geopolitik dunia juga berpotensi memengaruhi pasar keuangan global sehingga diperlukan penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Meski demikian, Doni menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih tetap kuat. BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang didukung koordinasi erat bersama pemerintah.

"Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.

Selain menjaga stabilitas rupiah, BI Kalbar juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), mendorong digitalisasi sistem pembayaran, serta menjaga daya beli masyarakat agar perekonomian Kalbar tetap tumbuh di tengah tantangan ekonomi global.

Baca juga: BI Perkuat Kedaulatan Rupiah lewat Lentera di Entikong

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....