Jejak Tempayan dalam Adat Melayu dan Dayak: Dari Penampung Air hingga Mas Kawin

  • 09 Sep 2026 10:44 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Dalam kehidupan masyarakat tradisional Kalimantan Barat, khususnya suku Melayu dan Dayak, tempayan bukan sekadar wadah penampung air dari tanah liat atau keramik. Lebih dari itu, benda ini memiliki kedudukan terhormat yang erat kaitannya dengan stratum sosial, hukum adat, hingga ritual keagamaan tempo dulu.

Sebagai perajut ikatan adat, keberadaan tempayan menjadi simbol kehidupan, penghormatan kepada leluhur, serta perlambang kemakmuran keluarga.

Tempayan dalam Adat Dayak: Nilai Hukum dan Mas Kawin

Bagi masyarakat Dayak, terutama seperti Dayak Kanayatn, tempayan tua (tajau) memiliki nilai adat yang sangat tinggi. Tempayan kuno acap kali dijadikan bagian utama dalam pembayaran hukum adat (adat patih) serta mas kawin (tajau paman) saat prosesi pernikahan tradisional.

Tinggi rendahnya nilai sebuah tempayan kerap diukur dari usia, kelangkaan ukiran, serta asal-usul tempayan tersebut. Dalam tradisi melamar, penyerahan tempayan oleh pihak laki-laki melambangkan kesiapan untuk melindungi dan memenuhi kebutuhan dasar keluarga baru.

Wadah Suci dalam Ritual Keagamaan

Selain dalam pernikahan, tempayan memegang peranan sakral dalam berbagai ritual adat seperti Naik Dango atau upacara syukuran pascapanen. Tempayan digunakan sebagai wadah untuk menyimpan beras baru, air suci, hingga minuman tradisional tuak yang dipersembahkan dalam prosesi adat.

Masyarakat percaya bahwa air yang disimpan di dalam tempayan sakral membawa keberkahan, kesucian, serta perlindungan bagi kampung dari marabahaya.

Simbol Kehangatan di Rumah Melayu

Sementara itu pada masyarakat Melayu Kalimantan Barat, tempayan kerap diletakkan di selasar depan rumah atau dekat tangga naik. Tempayan ini berisi air bersih beserta gayung tempurung kelapa, diperuntukkan bagi tamu atau pemilik rumah untuk mencuci kaki dan tangan sebelum melangkah masuk.

Tradisi ini melambangkan keterbukaan, kesucian niat, dan penghormatan tuan rumah dalam menyambut siapa pun yang berkunjung. Selain itu, tempayan penyimpan beras di dapur rumah Melayu melambangkan ketahanan pangan serta kesejahteraan keluarga.

Meski zaman terus berganti dan wadah modern bermunculan, nilai filosofis tempayan tetap melekat kuat dalam identitas budaya Kalimantan Barat. Memahami fungsi tempayan adalah cara merawat ingatan akan kearifan lokal yang mengajarkan penghormatan, kesucian, dan keharmonisan hidup bermasyarakat.


Baca juga: Berburu Rebung saat Musim Penghujan: Pangan Alami dari Rimbun Bambu

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....