Lawan Tren FOMO, Pemuda Pontianak Serukan Pentingnya Taat Hukum
- 30 Jun 2026 20:37 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Derasnya arus modernisasi dan kemudahan teknologi perlahan menciptakan generasi yang terjebak dalam fenomena Fear of Missing Out (FOMO) alias takut tertinggal tren. Imbasnya, kecintaan anak muda terhadap identitas budaya lokal serta kesadaran untuk patuh pada aturan hukum di kehidupan sehari-hari semakin memudar.
Keresahan tersebut diungkapkan oleh Nursyafiqri Marziban (Fikri), seorang mahasiswa hukum asal Pontianak, dalam bincang inspiratif "RONDA" (Ruang Obrolan Pro 2) di RRI Pro 2 Pontianak bersama host Dipa Revanda. Fikri menegaskan, Gen Z harus berani mengambil peran ganda, menjadi pelestari budaya daerah sekaligus pelopor kedisiplinan.
Sebagai pemuda yang tumbuh di lingkungan Tanjung Raya 1, Fikri mengamati adanya ketimpangan pelestarian budaya. "Di daerah saya, tradisi Melayu Pontianak seperti Robo-robo atau tahlilan dengan kearifan lokal masih sangat kental. Namun di pusat kota, dialek dan budaya ini perlahan luntur tergerus bahasa gaul dan tren luar. Padahal, kita bisa mencontoh kreator lokal yang sukses membawa budaya Melayu ke kancah nasional tanpa kehilangan jati diri," ungkapnya.
Kepatuhan Hukum Dimulai dari Hal Sederhana
Dari kacamata mahasiswa hukum, Fikri menyoroti rendahnya kedisiplinan anak muda terhadap aturan dasar. Ia mengestimasi baru sekitar 50 persen anak muda yang benar-benar taat aturan, sementara sisanya masih sering berkompromi dengan pelanggaran kecil.
Kebiasaan menyepelekan helm untuk jarak dekat, menyerobot antrean, hingga normalisasi mencontek di sekolah atau kampus adalah wujud nyata dari krisis kepatuhan.
"Mencontek atau datang terlambat itu pada dasarnya adalah pelanggaran hukum dan aturan di instansi kita. Sayangnya, terkadang lingkungan dan pola asuh (parenting) kita lebih mendewakan nilai dan hasil akhir ketimbang menanamkan prinsip kejujuran sejak dini," urai Fikri kritis.
| Baca juga: Saat Gaya Hidup Mengalahkan Penghasilan |
Pesan "Evergreen" untuk Generasi Muda
Agar tidak mudah terbawa arus, Fikri merangkum beberapa prinsip hidup yang bisa dijadikan pegangan oleh anak muda di era digital kapan pun dan di mana pun mereka berada:
- Utamakan Fungsi, Bukan Gengsi: Jangan memaksakan diri membeli barang mewah (seperti gawai mahal) hingga terjerat utang atau Pinjaman Online (Pinjol) hanya demi validasi sosial. Kenali kapasitas diri.
- Berhenti Berkata "Tidak Bisa": Jangan biarkan rasa ragu membatasi potensi diri. Keberanian untuk tampil, berbicara, dan mengeksplorasi hal baru adalah kunci utama pengembangan karakter.
- Jadilah Solusi, Bukan Lari: Generasi muda adalah penerus estafet bangsa. Jika melihat ada sistem yang salah di negara ini, jadilah bagian dari solusi, bukan justru apatis atau lari dari masalah.
- Habiskan Jatah Gagal di Masa Muda: Jangan pernah takut mencoba hal positif. Kegagalan di masa muda adalah proses pendewasaan yang wajar. Lebih baik mencoba lalu gagal, daripada tidak pernah mencoba sama sekali karena rasa takut.
Mengutip pesan proklamator Ir. Soekarno, Fikri menutup perbincangannya dengan semangat optimisme. "Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang," pungkasnya.
Baca juga: Kawal Trigatra Bahasa, Gen Z Diminta Tak Malu Berbahasa Daerah
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....