Budaya Berbahasa Santun dalam Masyarakat Melayu
- 22 Jun 2026 20:52 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Budaya berbahasa santun salah satu ciri khas yang melekat dalam kehidupan masyarakat Melayu. Kesantunan bertutur kata tidak hanya dipandang sebagai bentuk etika dalam berkomunikasi, tetapi cerminan kepribadian, pendidikan, dan penghormatan sesama.
Masyarakat Melayu mengenal berbagai ungkapan yang menekankan pentingnya menjaga lisan. Salah satunya adalah pepatah yang menyebutkan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Pepatah tersebut bermakna bahwa cara seseorang berbicara, mencerminkan nilai-nilai yang dianut, karakter, serta budaya asalnya.
Kesantunan berbahasa dalam masyarakat Melayu terlihat dari pemilihan kata yang halus dan penuh penghormatan. Ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, umumnya menggunakan sapaan dan ungkapan yang menunjukkan rasa hormat. Nada bicara yang lembut dan sikap yang rendah hati menjadi bagian dari etika komunikasi yang dijunjung tinggi dalam budaya Melayu.
Selain sebagai bentuk penghormatan, bahasa santun juga berfungsi menjaga keharmonisan hubungan sosial. Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan pendapat sering kali tidak dapat dihindari. Namun, melalui penggunaan bahasa yang baik dan santun, berbagai persoalan dapat disampaikan tanpa menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Budaya ini menjadi salah satu faktor yang mendukung terciptanya suasana kehidupan yang damai dan penuh rasa saling menghargai.
Tradisi berpantun yang berkembang dalam masyarakat Melayu juga mencerminkan nilai-nilai kesantunan berbahasa. Pantun digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan nasihat, kritik, maupun pesan moral secara halus dan bijaksana. Dengan cara tersebut, pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik tanpa menyinggung perasaan pihak lain. Tradisi ini menunjukkan tingginya penghargaan masyarakat Melayu terhadap etika dalam berkomunikasi.
Di era digital saat ini, tantangan dalam menjaga budaya berbahasa santun semakin besar. Media sosial memungkinkan setiap orang untuk menyampaikan pendapat secara cepat dan luas. Namun, tidak jarang ditemukan penggunaan bahasa yang kasar, provokatif, atau kurang menghargai orang lain. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kesantunan tetap relevan dan perlu diterapkan dalam komunikasi modern.
Pelestarian budaya berbahasa santun memerlukan peran keluarga, sekolah, dan masyarakat secara bersama-sama. Melalui pendidikan dan keteladanan, generasi muda dapat memahami pentingnya menjaga etika bertutur kata, baik langsung maupun di media digital. Berbahasa yang santun, masyarakat Melayu tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat nilai-nilai keharmonisan bermasyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....