Budaya "Rewang": Solidaritas tanpa Pamrih di Balik Dapur Hajatan Tetangga.
- 28 Apr 2026 11:40 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Di balik kemeriahan sebuah pesta pernikahan atau hajatan besar di perkampungan, ada sebuah tradisi turun-temurun yang hingga kini masih terjaga kuat. Bukan soal katering mewah atau dekorasi megah, melainkan tentang derap langkah kaki dan kepulan asap di dapur belakang rumah sang tuan rumah. Masyarakat mengenalnya dengan sebutan "Rewang".
Lebih dari Sekadar Memasak
Secara harfiah, rewang berarti membantu. Namun, dalam praktiknya, rewang adalah manifestasi nyata dari gotong royong. Tanpa perlu undangan formal atau imbalan materi, para tetangga—terutama kaum ibu—akan datang dengan sukarela membawa pisau dapur atau celemek mereka sendiri.
Di sana, dapur bukan sekadar tempat mengolah makanan, melainkan bertransformasi menjadi pusat diplomasi dan solidaritas. Sambil mengupas bawang atau memotong daging, percakapan mengalir hangat, mulai dari bertukar kabar hingga berbagi resep masakan tradisional yang autentik.
Solidaritas Tanpa Pamrih
Keunikan budaya rewang terletak pada prinsip timbal balik yang tidak tertulis. Hari ini kita membantu tetangga, kelak saat kita memiliki hajat, mereka jugalah yang akan berdiri paling depan di dapur kita. Inilah yang membuat ikatan sosial di lingkungan kampung atau perumahan yang masih memegang tradisi ini terasa begitu solid.
Di tengah gempuran jasa katering yang praktis, rewang menawarkan sesuatu yang tidak bisa dibeli: rasa kepemilikan dan kebersamaan. Setiap hidangan yang disajikan kepada tamu bukan hanya hasil olahan koki, melainkan wujud doa dan kerja keras kolektif para tetangga.
Menjaga Tradisi di Era Modern
Meski zaman terus berubah, melestarikan budaya rewang sangatlah penting, terutama sebagai benteng pertahanan sosial di tengah sikap individualistis masyarakat perkotaan. Rewang mengajarkan kita bahwa beban seberat apa pun akan terasa ringan jika dipikul bersama.
Melalui kepulan asap tungku dan tawa di dapur hajatan, budaya rewang terus mengingatkan kita bahwa kekayaan sejati seorang manusia bukan terletak pada apa yang ia miliki sendiri, melainkan pada seberapa kuat ia bertaut dengan orang-orang di sekitarnya.
Baca juga: Menghidupkan Kembali Seni "Betitak", Tradisi Berbalas Pantun yang Kembali Diminati
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....