Jejak Sejarah Masjid Adz-Dzikraa di Kelurahan Benua Melayu Laut

  • 24 Apr 2026 12:51 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Perjalanan panjang sebuah rumah ibadah di kawasan Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Benua Melayu Laut, Pontianak Selatan, menjadi saksi kuatnya semangat gotong royong masyarakat. Masjid Adz-Dzikraa, yang berdiri kokoh saat ini, ternyata berawal dari sebuah surau sederhana pada era 1950-an.

Salah satu pengurus masjid, Agus Salim, menceritakan bahwa surau tersebut pertama kali dikelola oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat seperti Budjang Satim, Haji Muhammad Tahir, Haji Muhammad Said, dan Jabar.

“Awal mula ini sekitar tahun 50-an, masih berupa surau yang dikelola oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat,” ucap Agus Salim.

Seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat, pada tahun 1963 surau tersebut kemudian dibangun menjadi masjid dengan nama Masjid Pancasila. Nama tersebut memiliki makna khusus yang merujuk pada lima hukum dalam Islam, bukan pada ideologi negara.

“Nama Pancasila itu bukan merujuk pada Pancasila negara, tapi pada lima hukum Islam. Jadi disebut Pancasila,” katanya.

Namun, pada sekitar tahun 1998, nama masjid tersebut kemudian diubah menjadi Masjid Adz-Dzikraa. Perubahan nama dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Masjid ini juga berdiri di atas tanah wakaf dari seorang dermawan, almarhumah Hajah Nur Jemmah, yang disertifikatkan sebagai tanah wakaf pada tahun 1988.

Dalam perjalanannya, masjid ini sempat mengalami renovasi besar pada tahun 1998. Dengan modal awal sekitar Rp25 juta dan dukungan masyarakat, pembangunan masjid dilakukan secara bertahap hingga akhirnya selesai dalam waktu empat tahun.

“Kita umumkan setiap Jumat, jika ada hamba Allah yang berkenan membantu pembangunan masjid. Alhamdulillah, empat tahun kemudian masjid ini bisa berdiri seperti sekarang,” ujar Agus.

Kini, Masjid Adz-Dzikraa memiliki dua lantai dan mampu menampung sekitar 350 jamaah. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga pernah menjadi pusat kegiatan keagamaan seperti pengajian, pendidikan diniyah, serta aktivitas remaja masjid.

Namun, aktivitas tersebut sempat berkurang seiring perubahan kondisi lingkungan dan berkurangnya sumber daya pengajar.

“Dulu ada pengajian, remaja masjid, bahkan pendidikan diniyah. Tapi sekarang karena banyak jamaah pindah dan tokoh-tokoh sudah wafat, kegiatan itu berkurang,” ujarnya.

Meski demikian, pengurus masjid berharap ke depan kegiatan keagamaan dapat kembali dihidupkan untuk memperkuat syiar Islam di tengah masyarakat.

Salah satu warga sekitar, Rosi, mengaku bangga dengan keberadaan masjid tersebut yang memiliki nilai sejarah tinggi. “Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga bagian dari sejarah kampung kami. Harapannya bisa terus hidup dengan kegiatan keagamaan,” katanya.

Baca juga: Tarbiyah Nabawiyah Jadi Solusi Dekadensi Moral Generasi Muda di Era Modern

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....