Lomba Meraut Pabayo Lestarikan Tradisi Masyarakat Dayak

  • 23 Apr 2026 13:55 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Festival Naik Dango 2026 yang digelar di Rumah Radakng tidak hanya menampilkan hiburan budaya, tetapi juga menghadirkan lomba meraut pabayo sebagai upaya pelestarian tradisi masyarakat Dayak di tengah modernisasi.

Dewan juri lomba, Sajem, mengungkapkan bahwa pabayo merupakan perlengkapan penting dalam berbagai ritual adat Dayak seperti Bahuma, Gawai, dan Barubat. Namun, keterampilan meraut pabayo kini mulai jarang dimiliki generasi muda.

“Sekarang ini tidak semua orang Dayak bisa meraut pabayo. Kalau tidak punya keahlian khusus, memang sulit. Karena itu lomba ini dibuat untuk regenerasi dan melestarikan budaya,” ujarnya di Pontianak, Rabu, 22 April 2026.

Ia menjelaskan, pabayo dibuat dari bambu yang diraut menggunakan pisau kecil bernama Insaut, dengan teknik khusus. Dalam lomba ini, penilaian meliputi kerapian, keindahan, kehalusan rautan, kebersihan, serta ketepatan waktu.

Sajem optimistis, melalui perlombaan ini minat generasi muda terhadap tradisi meraut pabayo akan meningkat.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Rita Hastarita, menegaskan bahwa pabayo memiliki makna simbolik dalam setiap ritual adat Dayak. “Meraut pabayo adalah bagian dari identitas budaya. Kami mengajak generasi muda untuk mengenal dan melestarikannya sebagai kekayaan budaya daerah,” katanya.

Sementara itu, salah satu peserta lomba, Feliksianus, mengaku meraut pabayo membutuhkan keterampilan dan ketelitian tinggi. “Kalau sudah terbiasa, hasilnya bisa rapi dan bagus. Tapi kalau belum, pasti kelihatan perbedaannya. Bambu dan ketajaman pisau juga sangat berpengaruh,” ujarya.

Melalui lomba meraut pabayo dalam rangkaian Naik Dango ini, diharapkan nilai-nilai kearifan lokal tetap terjaga dan menjadi kebanggaan masyarakat, khususnya di Kalimantan Barat.


Baca juga: Naik Dango sebagai Identitas Budaya Kalbar

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....