Cahaya dari Tepi Sungai: Warisan Semangat Kartini

  • 21 Apr 2026 08:14 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Di tepian Sungai Kapuas yang tenang, hiduplah seorang gadis kecil bernama Laras. Ia tinggal bersama ibunya di sebuah rumah kayu sederhana. Setiap pagi, Laras membantu ibunya menyiapkan dagangan kue tradisional sebelum berangkat ke sekolah. Meskipun hidup serba terbatas, semangat belajar Laras tak pernah padam.

Suatu sore, saat hujan rintik-rintik membasahi halaman, Laras menemukan sebuah buku tua di loteng rumahnya. Sampulnya sudah kusam, tetapi tulisan di dalamnya masih jelas terbaca. Buku itu berisi kumpulan surat seorang perempuan hebat yang memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum perempuan. Nama perempuan itu adalah Kartini.

Sejak hari itu, Laras sering membaca buku tersebut. Ia tertegun oleh kata-kata yang penuh keberanian dan harapan. Dalam hatinya tumbuh tekad: ia ingin menjadi seperti Kartini, membawa perubahan bagi lingkungannya.

Di sekolah, Laras dikenal sebagai anak yang rajin dan gemar berbagi ilmu. Ia mulai mengajak teman-temannya belajar bersama sepulang sekolah. Bahkan, ia mengajari anak-anak yang tidak mampu bersekolah di sekitar rumahnya. Di bawah pohon rindang dekat sungai, suara Laras membaca dan menjelaskan pelajaran menjadi pemandangan yang menghangatkan hati.

“Ilmu itu seperti cahaya,” kata Laras suatu hari kepada murid-murid kecilnya. “Jika kita membaginya, cahaya itu akan semakin terang.”

Waktu terus berjalan. Laras tumbuh menjadi seorang perempuan muda yang cerdas dan penuh empati. Berkat kerja kerasnya, ia berhasil melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Namun, ia tidak pernah melupakan asal-usulnya.

Setelah lulus, Laras kembali ke kampung halamannya. Ia mendirikan sebuah taman baca dan pusat belajar bagi anak-anak dan perempuan di desanya. Tempat itu menjadi ruang bagi siapa saja yang ingin belajar, tanpa memandang latar belakang.

Kehadiran Laras membawa perubahan besar. Anak-anak yang dulu tidak mengenal huruf kini mampu membaca dan menulis. Para perempuan mulai berani bermimpi dan mengembangkan keterampilan. Semangat belajar tumbuh di setiap sudut desa.

Suatu senja, Laras duduk di tepi sungai, tempat ia dahulu sering membaca buku tua itu. Ia tersenyum, mengingat perjalanan panjang yang telah dilaluinya. Dalam hati, ia berbisik, “Terima kasih, Kartini. Semangatmu telah menuntunku.”

Cerita Laras pun menyebar dari generasi ke generasi. Ia menjadi inspirasi bahwa semangat Kartini tidak pernah padam. Semangat itu hidup dalam setiap perempuan yang berani bermimpi, belajar, dan berbagi.

Di tepian Sungai Kapuas, cahaya itu terus menyala menerangi masa depan, melintasi waktu, dan menginspirasi banyak hati.

Baca juga: Pantun Semangat Kartini, Inspirasi Lintas Generasi

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....