Kursi Kosong di Meja Makan: Tentang Rindu yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

  • 16 Apr 2026 07:03 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Di sudut ruang makan sebuah rumah sederhana, sebuah kursi kayu tua masih bersandar rapi pada bibir meja. Tak ada yang mendudukinya, namun bagi penghuni rumah, kursi itu tak pernah benar-benar kosong. Ia menyimpan memori tentang tawa yang pecah di sela denting sendok dan aroma kopi yang selalu mengepul setiap pukul tujuh pagi.

Kehilangan orang tersayang seringkali tidak benar-benar terasa saat pemakaman usai. Rasa kehilangan itu justru datang menyergap di momen-momen paling remeh: saat kita secara tidak sadar menyiapkan piring tambahan di meja makan, hanya untuk tersadar bahwa sang pemilik piring tak lagi ada.

Memori di Balik Aroma Masakan

Bagi banyak keluarga, meja makan adalah "jantung" dari sebuah rumah. Di sanalah keputusan-keputusan besar diambil, cerita sekolah dibagikan, hingga keluh kesah pekerjaan tumpah. Ketika satu sosok tiada, meja makan berubah menjadi galeri kenangan.

"Awalnya sulit untuk sekadar menatap kursi itu, seorang ibu rumah tangga yang kehilangan sosok ayah setahun lalu. "Setiap kali memasak sayur lodeh kesukaannya, saya merasa beliau masih akan muncul dari balik pintu dan bertanya, 'Sudah matang belum?'"

Psikolog sering menyebut fenomena ini sebagai ambiguous loss dalam keseharian—di mana objek fisik mengingatkan kita secara tajam pada ketidakhadiran seseorang. Namun, seiring berjalannya waktu, kursi kosong tersebut bukan lagi menjadi simbol duka, melainkan sebuah penghormatan.

Menghidupkan Tradisi

Menghadapi "kursi kosong" bukan berarti harus melupakan. Banyak keluarga memilih untuk tetap menghidupkan tradisi sang mendiang sebagai cara untuk merayakan hidup yang pernah ada.

  • Memasak Resep Warisan: Menghadirkan rasa yang sama di lidah seolah menghadirkan kembali kehadiran mereka.

  • Menceritakan Kisah Lucu: Mengenang kesalahan-kesalahan kecil mendiang yang dulu memancing tawa.

  • Melanjutkan Kebiasaan Baik: Jika mendiang terbiasa berdoa sebelum makan dengan cara tertentu, meneruskannya adalah cara menjaga nilai-nilai mereka tetap hidup.

Cinta yang Berganti Wujud

Pada akhirnya, artikel ini mengingatkan kita bahwa kursi yang kosong di meja makan adalah bukti bahwa kita pernah sangat mencintai dan dicintai. Luka karena kehilangan adalah harga yang kita bayar untuk hubungan yang bermakna.

Meski raganya tak lagi tampak, sosok tersebut tetap "hadir" melalui nilai-nilai, kasih sayang, dan kenangan yang ditinggalkan. Kursi itu mungkin kosong, tapi ruang di hati mereka yang ditinggalkan akan selalu penuh dengan nama yang sama.

Sebab, cinta tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya berganti bentuk menjadi rindu yang menjaga kita tetap manusiawi.

Baca juga: Permainan Rakyat yang Terlupakan: Mengenang Serunya Gasing dan Lantak yang Sarat

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....