Rindu Suasana Sore tanpa Gadget: Mengapa Kita Butuh 'Waktu Lambat' di Era Serba Cepat?
- 13 Apr 2026 08:04 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Masih ingatkah Anda kapan terakhir kali duduk di teras rumah saat senja, menyesap secangkir teh hangat, tanpa ada gangguan notifikasi di genggaman tangan? Bagi banyak masyarakat perkotaan saat ini, momen sesederhana itu terasa seperti kemewahan yang sulit digapai.
Di tengah deru pembangunan dan tuntutan pekerjaan yang serba instan, teknologi digital memang mempermudah segalanya. Namun, tanpa disadari, kecepatan ini sering kali merampas ketenangan batin. Fenomena "rindu suasana sore" kini bukan sekadar nostalgia, melainkan alarm bahwa tubuh dan pikiran kita butuh jeda atau yang sering disebut sebagai slow living.
Kembali ke Akar Sosialisasi
Budaya Indonesia, terutama di daerah seperti Kalimantan Barat, sangat kental dengan tradisi "ngopi" atau sekadar mengobrol santai di sore hari bersama tetangga. Dahulu, sore hari adalah waktu sakral untuk melepas penat. Anak-anak bermain di halaman, sementara orang dewasa bertukar cerita tanpa terdistraksi layar ponsel.
Psikolog menyebut bahwa interaksi langsung tanpa gangguan perangkat digital meningkatkan hormon oksitosin yang mampu menekan stres. Ketika kita meletakkan gawai, kita memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat dari gempuran informasi yang tak ada habisnya.
Mengapa Kita Butuh 'Waktu Lambat'?
Menerapkan "waktu lambat" atau slow down bukan berarti kita menjadi tidak produktif. Sebaliknya, jeda ini berfungsi untuk:
- Menjernihkan Pikiran: Menjauh dari layar selama 30-60 menit di sore hari membantu menurunkan tingkat kecemasan.
- Meningkatkan Kualitas Hubungan: Menatap mata lawan bicara jauh lebih berharga daripada membalas pesan singkat sambil lalu.
- Melatih Kesadaran (Mindfulness): Merasakan semilir angin, mendengar suara burung, atau mencium aroma tanah setelah hujan adalah terapi alami yang gratis namun efektif.
Memulai dari Hal Kecil
Menciptakan kembali suasana sore yang berkualitas tidaklah sulit. Anda bisa memulainya dengan menetapkan aturan "Zona Bebas Gadget" di meja makan atau teras rumah antara pukul 17.00 hingga 18.30 WIB.
Gantilah aktivitas menggulir layar (scrolling) dengan kegiatan fisik yang ringan. Menyiram tanaman di halaman rumah, merapikan koleksi benda antik di ruang tamu, atau sekadar menikmati camilan tradisional bisa menjadi cara ampuh untuk terhubung kembali dengan realitas.
Mari kita kembalikan fungsi sore sebagai ruang untuk bernapas. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan tentang seberapa dalam kita menikmati setiap langkah yang kita ambil.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....