Permainan Rakyat yang Terlupakan: Mengenang Serunya Gasing dan Lantak yang Sarat
- 15 Apr 2026 09:43 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Di tengah riuhnya bunyi notifikasi ponsel pintar, ada suara-suara masa lalu yang perlahan menghilang dari telinga kita. Suara desing kayu yang berputar kencang di tanah atau bunyi "tak" yang nyaring dari bambu kecil yang melontarkan kertas basah. Ya, itu adalah suara permainan gasing dan lantak, dua dari sekian banyak permainan rakyat yang kini mulai jarang terlihat dimainkan di halaman rumah.
Bagi generasi yang tumbuh di era 80-an atau 90-an, permainan ini bukan sekadar cara menghabiskan waktu sore. Di balik kesederhanaan alat yang terbuat dari kayu atau bambu, tersimpan pelajaran hidup yang jauh lebih berharga daripada skor di layar gadget.
Gasing: Filosofi Keseimbangan dan Fokus Memainkan gasing kayu membutuhkan keahlian khusus. Mulai dari melilit tali dengan presisi hingga teknik lemparan yang tepat agar gasing bisa berputar lama atau "tahan". Di sini, anak-anak zaman dulu belajar tentang konsentrasi dan keseimbangan. Tidak ada istilah instan; untuk membuat gasing berputar sempurna, dibutuhkan latihan berulang kali yang secara tidak langsung mengasah kesabaran dan ketekunan.
Lantak: Simulasi Kerja Sama dan Strategi Lantak atau sering disebut tembakan bambu adalah permainan berkelompok yang sangat seru. Menggunakan amunisi dari kertas yang dibasahkan atau buah kecil, permainan ini mengajarkan anak-anak tentang strategi dan kerja sama tim. Ada komunikasi yang intens, pembagian peran antara siapa yang maju menyerang dan siapa yang bertahan, hingga rasa sportivitas saat terkena "tembakan" lawan.
Lebih dari Sekadar Hiburan Permainan rakyat seperti gasing dan lantak sebenarnya adalah laboratorium sosial bagi anak-anak. Di sana, mereka belajar berinteraksi secara langsung, menyelesaikan konflik di lapangan, hingga tertawa bersama tanpa batasan layar. Ada nilai gotong royong saat bersama-sama mencari kayu terbaik untuk dibuat gasing atau mencari bambu yang pas untuk membuat lantak.
Menjaga permainan tradisional adalah menjaga identitas bangsa. Di tengah gempuran teknologi digital, penting bagi orang tua dan pendidik untuk kembali memperkenalkan permainan ini kepada generasi muda.
Mengenalkan kembali gasing dan lantak bukan berarti kita anti-teknologi, melainkan upaya agar anak-anak kita tidak kehilangan "rasa" sosial dan kerja sama yang menjadi akar budaya kita. Mungkin sore ini adalah waktu yang tepat untuk mencari kayu di gudang dan kembali mengajak si kecil bermain di halaman, mengenalkan mereka pada keseruan yang pernah membuat masa kecil kita begitu berwarna.
Baca juga: Instrumen Tradisional Bangkit dari Kreativitas Lokal
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....