Permainan Tradisional di Era Digital, Masihkah Ada Ruang untuk Congklak dan Egrang?

  • 09 Apr 2026 11:21 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Di tengah riuhnya bunyi notifikasi ponsel pintar dan populernya permainan daring (online game), suara ketukan kayu biji congklak atau derap langkah kaki di atas egrang kini semakin jarang terdengar. Seiring berjalannya waktu, permainan tradisional yang dahulu menjadi primadona di halaman rumah, perlahan mulai tergeser oleh layar sentuh.

Namun, pertanyaannya kini, apakah permainan warisan leluhur ini benar-benar telah kehilangan ruang di hati generasi muda, ataukah mereka hanya sedang menunggu waktu untuk kembali ditemukan?

Lebih dari Sekadar Hiburan

Permainan tradisional seperti congklak, egrang, hingga bakiak sebenarnya menyimpan filosofi mendalam yang tidak ditemukan dalam permainan digital. Congklak, misalnya, mengajarkan tentang kejujuran, strategi, dan kesabaran dalam berbagi. Sementara egrang melatih keseimbangan fisik serta keteguhan mental untuk tetap berdiri meski dalam posisi sulit.

"Permainan tradisional itu melatih motorik dan interaksi sosial secara langsung. Ada kontak mata, ada tawa fisik, dan ada kerja sama tim yang nyata," ujar beberapa pemerhati budaya lokal.

Jembatan "Detoks Digital"

Menariknya, di beberapa kota besar, mulai muncul gerakan kembali ke permainan tradisional sebagai salah satu cara "detoks digital" bagi anak-anak. Orang tua mulai menyadari bahwa paparan layar yang terlalu lama memerlukan penyeimbang.

Ruang publik seperti taman kota dan ajang Car Free Day kini sering kali menjadi panggung bagi permainan ini untuk kembali unjuk gigi. Tidak sedikit anak-anak generasi alfa yang justru merasa asing sekaligus antusias saat pertama kali mencoba menyeimbangkan badan di atas galah bambu egrang.

Cara Menghidupkan Kembali Permainan Tradisional: Agar congklak dan egrang tidak hanya menjadi pajangan di museum, diperlukan langkah nyata dari lingkungan terdekat:

  • Mulai dari Rumah: Sediakan papan congklak atau alat permainan tradisional lainnya sebagai alternatif hiburan keluarga di akhir pekan.
  • Modifikasi Menarik: Mengemas permainan tradisional dengan kompetisi kecil yang seru atau tampilan warna-warni yang lebih modern.
  • Edukasi di Sekolah: Memasukkan kembali permainan tradisional ke dalam jam istirahat atau kegiatan ekstrakurikuler.

Kehadiran teknologi memang tidak bisa dibendung, namun budaya tidak seharusnya ditinggalkan. Masih ada ruang yang luas bagi congklak dan egrang, asalkan kita sebagai pemilik budaya bersedia meluangkan waktu untuk memainkannya kembali. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati sering kali ditemukan dalam kesederhanaan ketukan kayu dan tawa bersama di dunia nyata.

Baca juga: Jaga Kesehatan Mental, ini Cara Jitu Kelola Stres di tengah Kesibukan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....