Festival Cap Go Meh Melestarikan Tradisi, Merayakan Keluhuran

  • 16 Mar 2026 13:27 WIB
  •  Pontianak

Seru dan antusias. Inilah suasana keramaian warga pengunjung Festival Cap Go Meh dalam penutupan Tahun Baru Imlek 2026, yang dipusatkan di Jln. H. Juanda, Pontianak, Selasa malam (3/3/2026).

Ribuan warga berbondong-bondong menyaksikan pertunjukan terbuka tradisi permainan puluhan liong atau replika naga hias yang megah dan berukuran panjang. Para penonton meliputi orang-orang tua dan anak-anak muda.

Dalam bahasa Tionghoa dialek Hokkien/Tio Ciu, Cap go artinya lima belas. Meh artinya malam sehingga Cap Go Meh berarti malam kelima belas.

Dalam dialek Hakka disebut Cang Nyikat Pan. Cang Nyikat berarti bulan satu. Pan berarti pertengahan sehingga Cang Nyikat Pan berarti pertengahan bulan satu (Lie Sai Fat/X.F. Asali, 2008:27).

Liukkan ekor, badan dan kepalanya yang memancarkan cahaya warna warni seolah memperlihatkan kebijaksanaan, kekuatan baik, dan keluhuran. Atraksi belasan hingga puluhan pemain naga semakin bersemangat dan seru saat diiringi pukulan tambur, gong dan simbal/ceng ceng, yang ditimpali bunyi dentuman petasan penghantar percikan kembang-kembang api ke langit biru.

Di Festival “naga” tersebut, bagi masyarakat Tionghoa, dentuman keras petasan dan percikan kembang api bukan sekadar hiasan dan kemeriahan perayaan, tapi merupakan elemen ritual yang bermakna filosofis dan tradisional mendalam.

Suara petasan dipercaya dapat mengusir roh-roh jahat, makhluk halus, dan energi negatif yang berpotensi membawa ketidakberuntungan di tahun yang baru. Sedangkan percikan kembang api yang indah melambangkan sebagai penyambut keberuntungan, kesuksesan, dan kegembiraan yang akan datang. Selain menambah kemeriahan suasana malam bulan purnama, petasan dan kembang api juga menandai puncak perayaan 15 hari pasca Imlek.

Dengan demikian, petasan dan kembang api dalam pemainan naga menjadi simbol tolak bala sekaligus pancaran harapan akan kesejahteraan, keselamatan, dan rezeki yang berlimpah di tahun-tahun mendatang.

Malam Festival Cap Go Meh itu merupakan pengalaman kultural yang menyenangkan, memperkaya pengetahuan tentang khazanah tradisi Tionghoa dalam rangkaian penutup perayaan hari raya Imlek 2026.

Semakin tahu tentang kebudayaan orang lain, semakin menghormati perbedaannya dengan kebudayaan kita. Ini dimungkinkan karena dari pengalaman itulah, terjadi proses komunikasi antar-kebudayaan yang menjadi modal yang penting dalam berkembangnya gagasan dan sikap yang inklusif. Berada dan hadir dalam peristiwa kebudayaan orang lain (lian) memungkinkan seseorang menemukan dirinya yang lain – di tengah kehidupan sosio kultural yang beragam tapi indah.



Penulis: R. Giring - Pembelajar Tema tentang Kebudayaan di Gerakan Pemberdayaan Pancur Kasih & Pusat Dayakologi

Baca juga: Imlek, Istilah yang Khas Indonesia

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....