Sampan sebagai Transportasi Penyeberangan Warga Dusun Ampaning
- 01 Mar 2026 00:27 WIB
- Pontianak
RRI.CO.Id, Kubu Raya – Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, dikenal dengan karakteristik geografisnya yang didominasi oleh aliran sungai dan anak sungai. Bagi sebagian masyarakat, sungai bukanlah sebuah pembatas, melainkan urat nadi yang menghubungkan kehidupan. Hal ini sangat terasa di Dusun Ampaning, Desa Sungai Enau, Kecamatan Kuala Mandor B, di mana sebuah perahu kayu kecil yang dikenal dengan sebutan "Sampan" memegang peranan sangat vital.
Melihat potret kehidupan sehari-hari warga Dusun Ampaning, sampan bukanlah sekadar tumpukan kayu yang dibentuk mengapung. Sampan adalah "kendaraan tempur" utama untuk mobilitas penyeberangan. Dikelilingi rimbunnya vegetasi pepohonan dan tumbuhan nipah yang menjadi ciri khas tepian sungai Kalimantan, sampan menjadi moda transportasi yang paling dapat diandalkan untuk membelah air sungai yang berwarna kecokelatan khas lahan gambut.
Seperti yang terlihat pada gambar, penggunaan sampan sangat lekat dengan keseharian warga dari berbagai kalangan usia. Tampak sekelompok anak muda dan anak-anak sedang berada di atas sampan kayu berwarna biru yang memanjang. Pembagian tugas pun terjadi secara alami, ada yang bertindak sebagai juru mudi yang memegang dayung di bagian belakang, sementara yang lain duduk menjaga keseimbangan. Bagi masyarakat Dusun Ampaning, sampan memiliki fungsi yang multifungsi:
1. Jembatan Penghubung Antar Wilayah
Di daerah yang mungkin belum sepenuhnya terkoneksi oleh jembatan beton yang memadai untuk dilalui kendaraan, sampan adalah solusi utama. Warga menggunakannya untuk menyeberang dari satu sisi sungai ke sisi lainnya, baik untuk pergi ke kebun, berbelanja kebutuhan pokok, hingga silaturahmi antar tetangga.
2. Ruang Sosialisasi dan Rekreasi
Tidak hanya untuk urusan orang dewasa, bagi anak-anak dan pemuda di Desa Sungai Enau, sungai adalah taman bermain yang luas. Mengayuh sampan ke tengah sungai sambil membawa joran pancing, seperti yang terlihat pada potret tersebut, adalah hiburan dan cara mereka berinteraksi dengan alam. Di atas sampan ini pula, keterampilan membaca arus air dan mendayung diwariskan secara turun-temurun.
3. Kearifan Lokal yang Bertahan
Meski zaman terus berkembang dengan hadirnya kendaraan bermotor di jalur darat, eksistensi sampan dayung tradisional tidak serta merta hilang. Sampan sangat ramah lingkungan dan tidak bising, menyatu dengan ketenangan alam Kuala Mandor B. Namun, pemandangan ini juga menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga kebersihan ekosistem sungai dari sampah plastik agar jalur penyeberangan ini tetap asri dan aman digunakan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....