Esensi Imlek Harus Tetap Terjaga di tengah Modernisasi dan Geliat Pariwisata
- 20 Feb 2026 16:14 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Perayaan Imlek tidak hanya menjadi momen pergantian tahun bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga ruang refleksi budaya yang terus bertahan di tengah arus modernisasi. Hal ini menjadi topik pembicaraan dalam tapping program Obrolan Budaya RRI Net yang dipandu Dipa Revanda bersama Sekretaris Jenderal Yayasan Bhakti Suci, Heri Sandra, dan Wakil Sekretaris Jenderal Yayasan Bhakti Suci, Ariadi, Sabtu, 14 Februari 2026 di Yayasan Bhakti Suci Pontianak.
Dalam perbincangan tersebut, Dipa menyoroti perubahan cara pandang generasi muda terhadap tradisi dan mitos yang menyertai perayaan Imlek. Di era digital saat ini, nilai-nilai tradisional dinilai menghadapi tantangan karena pola pikir generasi yang semakin terbuka.
Menanggapi hal itu, Ariadi menjelaskan bahwa sebagian tradisi dalam Imlek memang bersumber dari mitos yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, perkembangan zaman membuat cara generasi muda memaknainya mulai berbeda.
“Ini memang bagian dari mitos. Dengan semakin majunya teknologi dan era digital, kaum muda mungkin sudah tidak seperti generasi yang lebih tua. Gen Z dan Gen Alpha misalnya, mereka tidak begitu saklek lagi. Bagi generasi muda sekarang, semua hari itu baik,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa masih ada generasi yang tetap memegang nilai-nilai tersebut. Pergeseran yang terjadi lebih pada cara penyampaian dan pemaknaan, bukan pada hilangnya tradisi sepenuhnya.
Selain tantangan modernisasi, perayaan Imlek juga berkaitan erat dengan sektor pariwisata. Setiap tahunnya, perayaan ini menarik wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menyaksikan kemeriahan tradisi seperti barongsai, atraksi naga, hingga ragam pertunjukan budaya lainnya.
Menurut Ariadi, meningkatnya kunjungan wisatawan tidak seharusnya menggeser esensi Imlek itu sendiri. Ia menilai justru keaslian tradisi menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
“Dengan kita menjaga esensi perayaan Imlek, inilah yang menjadi daya tarik wisatawan. Kalau sudah keluar dari esensinya, tidak ada lagi ciri khasnya. Inilah yang harus kita pertahankan sebagai nilai jual perayaan Imlek kepada wisatawan,” katanya, menegaskan.
Ia menambahkan, polesan atau inovasi dalam penyelenggaraan acara memang tidak bisa dihindari seiring pergantian generasi. Namun, inti nilai dan makna Imlek tetap harus dijaga agar tidak terkikis oleh orientasi komersial semata.
Senada dengan itu, Heri Sandra mengingatkan pentingnya keseimbangan antara kemeriahan acara dan pemahaman makna budaya. Menurutnya, jangan sampai perayaan hanya menonjolkan sisi hiburan dan keramaian, sementara nilai-nilai filosofisnya justru terlupakan.
“Untuk meramaikan pariwisata, esensi dari Imlek ini harus dijaga. Jangan sampai makna Imlek ini hilang, yang ramai justru pariwisatanya,” kata Heri.
Ia mencontohkan, para pelaku pertunjukan seperti pemain naga dan barongsai seharusnya memahami filosofi di balik simbol-simbol tersebut. Edukasi budaya, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan penyelenggaraan acara, termasuk dukungan dari pemerintah daerah agar perayaan tetap mengedepankan nilai tradisi.
Dalam diskusi itu juga ditegaskan bahwa peran media dan ruang dialog publik menjadi penting untuk menjaga kesinambungan pengetahuan lintas generasi. Dengan kemudahan akses informasi di era digital, generasi muda dinilai tetap memiliki peluang besar untuk memahami makna Imlek secara lebih mendalam.
Perayaan yang terus dilaksanakan dari tahun ke tahun diyakini akan menjaga keberlangsungan tradisi tersebut. Dengan kombinasi edukasi, partisipasi masyarakat, serta pemanfaatan teknologi, Imlek diharapkan tetap menjadi warisan budaya yang hidup dan relevan bagi generasi mendatang.
Baca juga: Imlek Berbarengan Ramadhan jadi Momentum Pererat Kerukunan di Kalimantan Barat
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....