Usia Senja Tak Halangi The Ngak Tjeng Lestarikan Bakcang
- 18 Jun 2026 20:19 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Di usia 87 tahun, The Ngak Tjeng tetap setia menjaga tradisi Bakcang sekaligus mewariskan budaya Tionghoa. Menjelang perayaan Hari Raya Bakcang yang tahun ini jatuh pada Jumat, 19 Juni 2026, semangat melestarikan budaya Tionghoa masih terlihat kuat pada diri The Ngak Tjeng.
Perempuan kelahiran Punggur yang kini menetap di Pontianak itu tetap aktif membuat bakcang meski usianya telah menginjak 87 tahun. Bagi The Ngak Tjeng, membuat bakcang bukan sekadar aktivitas kuliner, melainkan bagian dari upaya menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun dalam keluarga Tionghoa.
Pemerhati sosial budaya kemasyarakatan, Andreas Acui Simanjaya, mengatakan peran perempuan dalam keluarga Tionghoa sangat penting sebagai penjaga sekaligus pelaku budaya.
"Dalam kehidupan masyarakat Tionghoa, peran ibu dalam rumah tangga termasuk mengatur dan menjalankan berbagai peristiwa budaya dalam keluarga," ujarnya di Pontianak, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurut Andreas, keterlibatan perempuan Tionghoa terlihat mulai dari persiapan Tahun Baru Imlek, menentukan jadwal ziarah makam keluarga, hingga mempersiapkan berbagai tradisi penting seperti Hari Raya Bakcang.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari ritual budaya, tetapi juga sarana mempererat hubungan antaranggota keluarga lintas generasi. Di tengah usia senjanya, The Ngak Tjeng masih menerima pesanan bakcang dari kolega dan pelanggan yang telah lama mengenalnya. Aktivitas tersebut menjadi pengisi waktu sekaligus penyemangat dalam kesehariannya.
Selain dikenal piawai membuat bakcang, The Ngak Tjeng juga mahir mengolah berbagai kuliner khas Tionghoa lainnya, termasuk chai kue yang cukup populer di kalangan masyarakat Pontianak.
"Walaupun sudah tua, saya masih senang membuat bakcang. Selama masih kuat, saya akan terus membuatnya," kata The Ngak Tjeng.
Dalam proses pembuatannya, bakcang menggunakan berbagai bahan seperti beras ketan, udang ebi, jamur, daging, kacang, kuning telur asin, serta dibungkus daun bambu atau daun pisang sebelum dikukus hingga matang.
Bakcang kemudian diikat membentuk segitiga, sebuah ciri khas yang telah dikenal luas dalam tradisi kuliner Tionghoa. Menurut The Ngak Tjeng, bakcang memiliki keunggulan karena dapat disimpan dalam waktu cukup lama sehingga praktis dibawa saat bepergian.
Menariknya, pada musim perayaan Bakcang, perempuan lanjut usia tersebut mampu memproduksi hingga 100 bakcang dalam sehari. Dengan harga jual sekitar Rp40 ribu per buah, hasil penjualan bakcang tidak hanya membantu menambah penghasilan, tetapi juga menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi keluarga.
Di tengah arus modernisasi, ketekunan The Ngak Tjeng menjadi inspirasi bahwa warisan budaya tidak akan lekang oleh waktu selama masih ada generasi yang setia menjaga dan meneruskannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....