Harmoni Imlek Nusantara Menguat di Kalimantan Barat, Berdekatan dengan Ramadan
- 20 Feb 2026 15:56 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini terasa semakin istimewa. Selain mengusung tema Harmoni Imlek Nusantara, perayaan juga berlangsung berdekatan dengan bulan suci Ramadan. Momentum ini dinilai menjadi simbol kuat kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat.
Hal tersebut dibahas dalam tapping program Obrolan Budaya RRI Net yang dipandu oleh Dipa Revanda pada Sabtu, 14 Februari 2026 lalu di Yayasan Bhakti Suci Pontianak. Dalam perbincangan tersebut, hadir Sekretaris Jenderal Yayasan Bhakti Suci, Heri Sandra, dan Wakil Sekretaris Jenderal Yayasan Bhakti Suci, Ariadi.
Dalam diskusi, Heri Sandra menjelaskan bahwa Imlek memiliki makna mendalam bagi masyarakat Tionghoa dan telah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari tradisi dan budaya. “Makna Imlek bagi orang Tionghoa memang satu adat budaya yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun. Setiap pergantian tahun selalu diperlukan rasa syukur. Apa yang sudah dilewati tahun-tahun yang lalu, kita syukuri untuk tahun baru ini,” ujar Heri.
Menurutnya, Imlek bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi, ungkapan syukur, dan penguatan nilai kekeluargaan. Tradisi ini terus dihidupi oleh generasi Tionghoa masa kini sebagai bagian dari identitas budaya yang tetap relevan di era modern.
Di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak, perayaan Imlek memiliki warna tersendiri. Wilayah ini dikenal dengan keberagaman etnis yang hidup berdampingan, terutama tiga suku besar yakni Tionghoa, Dayak, dan Melayu—yang sering disebut sebagai Tidayu. Ariadi menegaskan bahwa keharmonisan antarsuku inilah yang menjadi ciri khas perayaan Imlek di daerah tersebut.
“Memang inilah ciri khasnya di Kalimantan Barat ini. Ada tiga suku besar yang berbaur. Kita melihat perayaan Imlek atau kegiatan Imlek itu, tiga suku ini sama-sama ikut memeriahkan, ikut dalam acara-acara yang dilakukan berkaitan dengan perayaan Imlek,” kata Ariadi.
Ia menambahkan, keterlibatan tersebut tidak terbatas hanya pada tiga suku besar, melainkan juga etnis lainnya yang turut merasakan semarak perayaan. Imlek di Pontianak telah berkembang menjadi ruang bersama, di mana masyarakat lintas budaya hadir sebagai bagian dari perayaan, baik sebagai peserta maupun penonton.
Heri Sandra juga menilai bahwa Imlek di Pontianak telah mengakar kuat dan menjadi bagian dari denyut budaya kota. Menurutnya, keberlangsungan perayaan ini tidak lepas dari komunikasi dan hubungan yang harmonis antarmasyarakat.
“Imlek ini sebenarnya sudah mengakar dari dulu sampai sekarang. Selalu dirayakan oleh orang Tionghoa dan disaksikan atau diikuti oleh suku-suku yang lain. Saya rasa selama ini ada komunikasi yang lebih baik dan lancar. Buktinya sekarang Imlek masih tetap eksis, makin ramai, setiap event tetap merata,” ucapnya.
Dengan semakin kuatnya partisipasi lintas etnis, perayaan Imlek di Kalimantan Barat kini tidak hanya dipandang sebagai perayaan komunitas tertentu, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah yang patut dilestarikan bersama. Berdekatannya Imlek dengan Ramadan tahun ini pun menjadi simbol nyata bahwa perbedaan keyakinan dan budaya tidak menjadi penghalang untuk merawat kebersamaan. Melalui harmoni yang terjalin, Imlek Nusantara semakin menegaskan identitas Indonesia sebagai bangsa yang beragam namun tetap satu.
Baca juga: Imlek Berbarengan Ramadhan jadi Momentum Pererat Kerukunan di Kalimantan Barat
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....