Pengusaha Teknologi Kalbar Hibahkan AI Prediksi Karhutla

  • 27 Agt 2026 16:40 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak — Pengusaha sekaligus pengembang teknologi asal Kalimantan Barat, Hajon Mahdy, melalui Hotama Technologies, menghibahkan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan untuk membantu memprediksi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga 24 bulan ke depan.

Teknologi tersebut dihibahkan secara gratis untuk mendukung upaya pencegahan dan mitigasi Karhutla, khususnya di Kalimantan Barat. Sistem yang dikembangkan Hotama Technologies menggunakan pendekatan predictive analytics berbasis AI, dengan mengolah berbagai variabel dan data terkait untuk menghasilkan pemetaan tingkat risiko Karhutla pada suatu wilayah dalam periode tertentu.

Kemampuan proyeksi hingga 24 bulan tersebut tidak dimaksudkan untuk menentukan secara absolut kapan dan di mana kebakaran akan terjadi, tetapi menghasilkan indikasi probabilitas dan tingkat risiko yang dapat menjadi dasar pendukung pengambilan keputusan serta diperbarui seiring masuknya data terbaru.

“Selama ini teknologi banyak digunakan ketika titik api sudah muncul. Kami ingin mendorong pendekatan yang lebih preventif. Dengan data yang cukup, AI dapat membantu membaca pola dan memberikan gambaran risiko jauh lebih awal, sehingga kita memiliki waktu untuk melakukan mitigasi,” ujar Hajon, Kamis, 17 Agustus 2026.

Inisiatif tersebut telah diperkenalkan dalam diskusi strategis penanganan Karhutla bersama PMI Kalimantan Barat, Balai Pengelola Ekosistem Gambut dan Mangrove KLH, Balai Wilayah Sungai Kalimantan I Kementerian PU, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, Bank Indonesia, serta Bank Kalbar.

Salah satu fitur utama yang dikembangkan adalah Peat Fire Vulnerability Index (PFVI), sebuah indeks yang dirancang untuk membantu mengidentifikasi dan memetakan tingkat kerentanan kebakaran pada kawasan gambut. Keberadaan PFVI menjadi penting karena kawasan gambut memiliki karakteristik kebakaran yang berbeda dengan lahan mineral. Ketika gambut mengering, api dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan. Melalui Peat Fire Vulnerability Index, sistem dapat menggabungkan sejumlah indikator relevan untuk menghasilkan klasifikasi tingkat kerentanan kawasan gambut.

Data tersebut kemudian dapat dipadukan dengan model prediksi AI sehingga sistem tidak hanya menjawab lokasi hotspot, tetapi bergerak lebih awal untuk membantu menjawab wilayah gambut mana yang semakin rentan dan perlu mendapatkan intervensi sebelum kebakaran terjadi.

“Kalau kita baru bergerak setelah hotspot muncul, kita sudah berada pada fase kejadian. Peat Fire Vulnerability Index kami kembangkan agar kita bisa melihat kerentanan kawasan lebih awal. Tujuannya agar tidak menunggu ada api untuk mulai bergerak,” kata Hajon.

Informasi tersebut berpotensi digunakan sebagai salah satu instrumen pendukung dalam menentukan prioritas patroli, pembasahan gambut, pengelolaan sumber air, penempatan sumber daya, hingga intervensi terhadap wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi.

Teknologi yang dikembangkan Hotama Technologies pada dasarnya mendorong perubahan paradigma penanganan Karhutla melalui tiga lapisan informasi: deteksi kondisi saat ini, pemetaan kerentanan kawasan gambut, dan prediksi risiko ke depan.

Dengan pendekatan tersebut, pemangku kepentingan diharapkan tidak hanya memiliki informasi mengenai kejadian yang sedang berlangsung, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai wilayah yang perlu mendapatkan perhatian dalam jangka pendek hingga jangka panjang.

“Bayangkan jika kita mengetahui sebuah kawasan memiliki tren risiko yang meningkat beberapa bulan sebelum memasuki kondisi kritis. Pemerintah dan petugas lapangan memiliki waktu untuk melakukan intervensi. Nilai terbesar AI di sini bukan ketika ia menemukan api, tetapi ketika informasi yang dihasilkan membantu kita mencegah api itu terjadi,” ujar Hajon.

Walau dihibahkan, sistem lanjutan membutuhkan kolaborasi terutama terkait ketersediaan, kualitas, serta integrasi data dari berbagai lembaga. Sistem tersebut dapat diakses melalui https://sistem-terpadu-risiko-karhutla-kalb.vercel.app.

“Teknologinya kami hibahkan. Kami tidak meminta pemerintah membeli sistem ini. Yang kami harapkan adalah kolaborasi dan akses terhadap data yang relevan agar AI dapat bekerja semakin baik dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat,” kata Hajon.

Bagi Hajon, keputusan menghibahkan teknologi tersebut berangkat dari keterikatannya sebagai putra daerah dan pengusaha teknologi yang tumbuh dari Kalimantan Barat. Karhutla menurutnya bukan hanya persoalan lingkungan. Dampaknya dapat menyentuh kesehatan masyarakat, pendidikan, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kualitas hidup masyarakat Kalimantan Barat.

“Kami membangun teknologi dari Kalimantan Barat. Kalau kemampuan yang kami punya bisa digunakan untuk membantu menjaga Kalimantan, saya rasa tidak semuanya harus dihitung sebagai bisnis. Kalimantan ini rumah kami, dan kami ingin teknologi yang kami bangun ikut menjaganya,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....