Kupas Red Flag Asmara, Dua Mahasiswi ini Ingatkan Bahaya 'Cowok Bingung'

  • 24 Jun 2026 13:50 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak: Di kalangan remaja masa kini, sikap posesif kerap disalahartikan sebagai bentuk rasa sayang yang mendalam. Padahal, ketika sebuah aturan mulai membatasi ruang gerak dan mematikan karakter asli seseorang, hubungan tersebut telah berubah dari tempat berpulang yang aman menjadi sebuah jeratan toksik.

Peringatan tersebut dibahas dalam bincang malam "Ronda" (Ruang Obrolan Pro 2) di RRI Pro 2 Pontianak, Selasa, 23 Juni 2026. Mengangkat tajuk “Mengenali Red Flag: Kapan Hubungan Sehat Berubah Menjadi Jerat”, dua mahasiswi Ilmu Hukum IAIN Pontianak, Silva dan Sikarayan, membedah jebakan psikologis dalam asmara anak muda.

Menilik definisinya, Sikarayan yang biasa disapa Ryan ini melihat red flag sebagai alarm tanda bahaya ketika sebuah hubungan sudah tidak lagi berjalan sehat. Sementara bagi Silva, yang juga tergabung dalam Borneo Legal Club (BLC), red flag lebih bertumpu pada tabiat manipulatif pasangan.

"Contoh paling nyata adalah posesif yang berlebihan. Misalnya kita dilarang melakukan hobi kita, atau dituduh yang tidak-tidak saat berorganisasi di kampus tanpa bukti. Sayang itu boleh, tapi kalau menyayanginya secara 'ugal-ugalan' sampai membuat kita tidak jadi diri sendiri, itu sudah bahaya," ungkap Silva kepada host Anwar.

Selain isu posesif, obrolan tersebut juga mengulas fenomena asmara yang belakangan viral di media sosial, yakni tipe ‘Cowok Bingung’. Keduanya sepakat bahwa ketidaktahuan laki-laki dalam menentukan arah hubungan, yang kerap melakukan tarik-ulur (people come and go), merupakan 'lampu merah' bagi kesehatan mental perempuan.

"Cowok bingung itu red flag besar karena dia sendiri tidak tahu apa yang dia mau. Dia datang, lalu pergi sesukanya. Akhirnya, pihak perempuan yang dirugikan karena terus digantung dalam ketidakpastian," kata Ryan menimpali.

Menariknya, kedua mahasiswi ini juga meluruskan stigma tentang sikap ramah (friendly) kepada lawan jenis. Menurut mereka, bersikap friendly demi memperluas relasi pertemanan adalah hal yang sangat wajar. Hal itu baru berubah menjadi penyimpangan apabila sudah melibatkan aktivitas privat yang disembunyikan dari pasangan.

Sebagai penutup, Ryan memberikan pesan penegasan kepada para remaja di Kalimantan Barat yang saat ini terjebak dalam lingkaran toxic relationship, agar berani menyelamatkan diri sendiri.

"Kalau hubungan itu sudah merusak mentalmu, tinggalkan. Jangan takut dibilang jahat atau menjadi asing setelah putus. Namun, kalau pasanganmu menyadari kesalahannya dan sungguh-sungguh mau berubah, barulah hubungan itu layak diperjuangkan," ucapnya.

Baca juga: 31 Persen Pemuda Zaman Sekarang Mengalami Masalah Kesehatan Mental

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....