IAIN Pontianak Bentuk Relawan Pendamping Disabilitas, Dorong Kampus Inklusi

  • 15 Jun 2026 07:37 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi IAIN Pontianak menggelar pelatihan bagi relawan pendamping mahasiswa disabilitas dengan melibatkan staff kampus dan aktivis inklusi. Kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa dan tenaga kependidikan agar mampu mendukung proses perkuliahan yang lebih ramah dan inklusif bagi mahasiswa penyandang disabilitas, dilaksanakan di kampus IAIN Pontianak pada Rabu, 10 Juni 2026.

Pelatihan ini menjadi langkah awal pembentukan Relawan Pendamping Disabilitas atau yang disebut sebagai "Sahabat Pejuang Inklusi" di lingkungan IAIN Pontianak. Peserta diberikan pemahaman mengenai ragam disabilitas, etika pendampingan, hingga cara berkomunikasi dengan mahasiswa disabilitas, khususnya teman-teman Tuli dan netra.

Koordinator Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi IAIN Pontianak, Nopita Sari, mengatakan kegiatan ini tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga tenaga kependidikan dari setiap fakultas. Hal tersebut dilakukan agar layanan pendampingan dapat berjalan secara menyeluruh di lingkungan kampus.

“Ini baru pertama terbentuknya Relawan Pendamping Disabilitas. Kami menyebutnya Sahabat Pejuang Inklusi, bukan hanya dari mahasiswa tapi juga ada teman-teman tenaga kependidikan karena kami membutuhkan perwakilan dari setiap fakultas,” ujar Nopita.

Ia menjelaskan, pembentukan relawan ini juga sejalan dengan komitmen pimpinan IAIN Pontianak dalam menciptakan kampus yang ramah terhadap penyandang disabilitas. Salah satunya melalui kebijakan pemberian UKT nol rupiah bagi mahasiswa disabilitas yang menjadi bentuk dukungan akses pendidikan.

“Memang komitmen dari Rektor khususnya untuk teman-teman disabilitas agar mendapatkan 0 UKT atau biaya tidak berbayar. Kemudian juga ingin menumbuhkan kampus yang ramah disabilitas,” jelasnya.

Selain penguatan sumber daya manusia, IAIN Pontianak juga mulai menyediakan sejumlah fasilitas pendukung bagi mahasiswa disabilitas, seperti lift, eskalator, hingga akses tangga landai bagi pengguna kursi roda. Ke depan, pihak kampus juga berupaya menghadirkan fasilitas tambahan seperti papan braille bagi mahasiswa netra.

Sementara itu, aktivis inklusi Arul Maulana yang menjadi salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut mengatakan, pelatihan ini menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan kampus yang tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga memiliki sumber daya manusia yang memahami kebutuhan mahasiswa disabilitas.

“Membangun kampus inklusif bukan hanya tentang fasilitas saja, tetapi bagaimana orang-orang di dalamnya juga inklusif. Mulai dari etika, cara bersikap, dan bagaimana menjadi pendamping bagi teman-teman disabilitas,” ucap Arul.

Menurut Arul, para peserta juga diberikan simulasi melalui berbagai kasus yang sering terjadi dalam proses perkuliahan, seperti kendala komunikasi antara mahasiswa Tuli dengan dosen maupun tenaga administrasi.

“Kami memberikan beberapa kasus yang benar-benar terjadi di kelas maupun akademik. Peserta belajar menganalisis masalah, melihat dampaknya bagi mahasiswa, kemudian mencari solusi yang tepat,” tambahnya.

Melalui pelatihan ini, Pusat Layanan Disabilitas dan Pendidikan Inklusi IAIN Pontianak berharap para relawan yang telah dibekali dapat menjadi penghubung bagi mahasiswa disabilitas agar tidak merasa sendiri selama menjalani proses pendidikan. Nopita berharap gerakan inklusi di lingkungan kampus dapat terus berkembang dan menciptakan ruang belajar yang nyaman bagi seluruh mahasiswa.

“Harapannya kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Semoga Sahabat Pejuang Inklusi dan teman-teman lainnya bisa membantu mahasiswa disabilitas sehingga mereka merasa diterima dan tidak merasa sendirian,” tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....