Anak Muda Diajak Atur Keuangan agar Tak Terjebak Lifestyle

  • 13 Apr 2026 10:10 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Gaya hidup anak muda yang kerap menonjolkan kesan mewah menjadi perhatian dalam program siaran “Ronda” di RRI Pro 2 Pontianak pada Kamis, 9 April 2026 lalu. Melalui diskusi tersebut, generasi muda diingatkan pentingnya mengelola keuangan secara bijak agar tidak terjebak dalam pola hidup yang melampaui kemampuan finansial.

Sanidi dari PKBI Kalbar menegaskan bahwa fenomena lifestyle glowing sering muncul karena dorongan untuk mendapatkan validasi sosial. Namun, jika dipaksakan tanpa mempertimbangkan kemampuan keuangan, hal ini justru dapat memicu masalah finansial.

Lifestyle glowing sering terlihat mewah di permukaan, tetapi jika tidak sesuai dengan kondisi keuangan bisa membuat saldo justru ‘nyungsep’, bahkan memicu utang atau ketergantungan pada pinjaman online,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga membagikan strategi sederhana dalam mengatur keuangan melalui metode 50/30/20. Metode ini membagi penghasilan menjadi 50 persen untuk kebutuhan pokok seperti makan dan transportasi, 30 persen untuk keinginan seperti hiburan atau nongkrong, serta 20 persen untuk tabungan atau investasi masa depan.

Selain itu, Sanidi memberikan sejumlah tips agar anak muda tidak mengalami kondisi keuangan “boncos”. Salah satunya adalah menunda keputusan belanja dengan menyimpan barang di keranjang belanja selama 24 jam sebelum melakukan pembelian. Cara ini dinilai efektif untuk membantu mempertimbangkan kembali apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

Ia juga menyarankan untuk mencari alternatif yang lebih hemat, seperti membuat kopi sendiri di rumah dibandingkan sering membeli di kedai kopi, serta menggunakan aplikasi pencatat keuangan agar pengeluaran dapat terpantau secara rutin.

“Anak muda juga perlu berani mengatakan tidak ketika diajak nongkrong jika kondisi keuangan tidak memungkinkan. Mengatur prioritas pengeluaran sangat penting agar keuangan tetap sehat,” tambahnya.

Tak hanya itu, Sanidi menekankan pentingnya investasi “leher ke atas”, yakni penggunaan dana untuk meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan, seminar, maupun buku. Menurutnya, investasi pada pengetahuan akan memberikan manfaat jangka panjang.

Dalam diskusi tersebut juga disebutkan bahwa biaya hidup mahasiswa di Pontianak berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,5 juta per bulan di luar biaya kos. Sementara itu, untuk standar umum non-mahasiswa dapat mencapai sekitar Rp3 juta per bulan. Melalui pengelolaan keuangan yang tepat, anak muda diharapkan mampu menjalani gaya hidup yang seimbang tanpa harus mengorbankan stabilitas finansial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....