Penggunaan Tungku Tradisional VS Kompor Gas

  • 10 Feb 2026 23:56 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Penggunaan tungku tradisional dan kompor gas memberikan hasil masakan yang berbeda, baik dari segi rasa maupun prosesnya. Perbedaan ini muncul karena sumber panas, teknik memasak, serta interaksi api dengan bahan makanan.

Masakan dari tungku kayu biasanya memiliki aroma khas asap yang lebih kuat dan alami. Kelebihannya, cita rasa terasa lebih dalam dan autentik, namun kelemahannya adalah tingkat kematangan yang sulit dikontrol secara presisi.

Panas tungku yang menyebar tidak merata membuat masakan tertentu seperti gulai atau rendang menjadi lebih sedap karena dimasak perlahan. Namun, kekurangannya adalah waktu memasak lebih lama dan risiko gosong jika tidak terus diawasi.

Sebaliknya, kompor gas menghasilkan panas yang stabil dan mudah diatur sesuai kebutuhan. Kelebihannya, masakan lebih cepat matang dan tingkat kebersihan lebih terjaga, tetapi cita rasa asap alami tidak dihasilkan.

Hasil masakan dari kompor gas cenderung konsisten dari segi tekstur dan warna. Meski demikian, beberapa orang menilai rasanya kurang “hidup” dibandingkan masakan dari tungku kayu tradisional.

Dari sisi efisiensi, kompor gas unggul karena hemat waktu dan tenaga dalam proses memasak. Sementara tungku membutuhkan persiapan lebih, seperti kayu bakar dan pengelolaan api yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, kelebihan dan kelemahan kedua alat masak ini saling melengkapi sesuai kebutuhan. Tungku unggul dalam cita rasa tradisional, sedangkan kompor gas menonjol dalam kepraktisan dan kontrol modern.

Baca juga: Rasa Cukup adalah Kekayaan Sejati

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....