Pepatah Lama: Pulang Menemukan Tenang

  • 09 Feb 2026 09:15 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Beranda rumah kayu milik Bayu yang menghadap ke persawahan sore hari. Tersaji dua gelas kopi panas di atas meja. Pertemuan dua sahabat yang lama terpisah itu, membangkitkan kenangan semasa dulu masih sama-sama pengangguran. Obrolan kedua sahabat itu berlanjut. 

Seta: (Menyeruput kopi perlahan) "Jujur saja, Bay, aku masih kaget kamu benar-benar pindah balik ke sini. Padahal di ibu kota karirmu sedang di puncak, kan? Orang-orang bilang sayang banget ditinggal."

Bayu: (Tersenyum tenang, memandang hamparan padi) "Iya, Ta. Secara logika karir, mungkin sayang. Tapi secara batin, aku merasa kering di sana. Kamu tahu rasanya sukses tapi gelisah setiap hari?"

Seta: "Gelisah kenapa? Uang ada, fasilitas lengkap."

Bayu: "Entahlah. Rasanya seperti ada bagian diriku yang tertinggal di sini. Dulu aku pikir, pergi sejauh mungkin akan membuatku puas. Tapi semakin jauh aku pergi, semakin kencang panggilan untuk pulang."

Seta: "Wah, persis seperti pepatah lama ya, 'Bagai ikan pulang ke lubuk'."

Bayu: "Nah, itu dia! Kamu tahu betul maknanya?"

Seta: "Tahu sedikit. Maksudnya orang yang kembali ke tempat asalnya, kan?"

Bayu: "Betul, tapi ada makna yang lebih dalam, Ta. Ikan itu, mau dia berenang ke sungai deras, melawan arus ke hulu, atau terseret banjir sekalipun, dia baru akan benar-benar merasa nyaman dan aman kalau sudah kembali ke lubuknya bagian sungai yang dalam dan tenang."

Seta: "Jadi, kampung ini 'lubuk' buat kamu?"

Bayu: "Tepat sekali. Di kota, aku seperti ikan yang terus berenang melawan arus deras. Lelah. Begitu sampai di sini, bertemu tetangga lama, makan masakan ibu, menghirup udara ini... rasanya seperti ikan yang akhirnya masuk ke air tenang. Beban di pundak rasanya luruh semua."

Seta: "Kelihatan sih dari wajahmu. Dulu waktu kamu pulang setahun sekali pas Lebaran, wajahmu tegang, buru-buru. Sekarang kelihatan jauh lebih 'hidup'."

Bayu: "Itulah kuncinya. Banyak orang berpikir pulang kampung itu tanda kekalahan atau kemunduran. Padahal buatku, pulang adalah kemenangan. Kemenangan menemukan kembali ketenangan jiwa yang hilang."

Seta: "Berarti kamu nggak menyesal?"

Bayu: "Sama sekali tidak. Justru aku merasa hidupku yang sebenarnya baru dimulai lagi sekarang. Tenang, damai, dan dekat dengan akar."

Seta: (Mengangguk paham) "Aku jadi mengerti sekarang. Ternyata kebahagiaan itu bukan soal seberapa jauh kita pergi, tapi seberapa nyaman hati kita berada di suatu tempat."

Bayu: "Benar, Ta. Sejauh-jauhnya merantau, tempat terbaik adalah di mana hati kita merasa utuh."

​Dari percakapan Seta dan Bayu di atas, kita diajarkan bahwa kembali ke akar bukanlah sebuah kemunduran. Pepatah "Bagai ikan pulang ke lubuk" mengingatkan kita bahwa kenyamanan sejati seringkali ditemukan di tempat kita berasal.

Pesan Moral:

​"Orang yang pulang ke tempat asal dengan kehidupan yang senang."

Baca juga: Cerita Rakyat: Anggur Asam, Anggur Pahit 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....