Pepatah Lama: Air Beriak Tanda Tak Dalam

  • 10 Feb 2026 08:48 WIB
  •  Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Siang itu, Danu dan Aris sedang duduk di sebuah warung makan di pinggir jalan. Di meja sebelah mereka, terdengar suara seorang pria yang berbicara sangat keras, memamerkan kekayaannya dan koneksi hebat yang dimiliki di kalangan pejabat dan pengusaha kepada teman-temannya. Danu menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah pria itu, yang mengusik ketenangannya. Sambil mencicipi makanan Danu dan Aris terlihat mengobrol tentang orang yang dilihatnya. 

Danu: "Aris, kamu lihat orang di sebelah sana? Rasanya telingaku panas mendengar ceritanya yang setinggi langit itu."

Aris: (Tersenyum tenang) "Biarkan saja, Nu. Bukankah orang tua kita dulu sering bilang, 'Air beriak tanda tak dalam'?"

Danu: "Ah, benar juga. Aku sering mendengar pepatah itu, tapi jujur saja, aku jarang benar-benar merenungkan maknanya. Menurutmu, apakah pria itu sedang berbohong?"

Aris: "Belum tentu dia berbohong sepenuhnya. Namun, pepatah itu sebenarnya bicara tentang kedalaman karakter dan ilmu seseorang. Air yang dangkal biasanya lebih berisik karena arusnya beradu dengan kerikil di dasar. Sebaliknya, sungai yang sangat dalam justru permukaannya tampak tenang, padahal di bawahnya ada kekuatan yang besar."

Danu: "Jadi maksudmu, orang yang benar-benar punya kemampuan atau kekayaan biasanya tidak merasa perlu untuk berteriak memberitahu dunia?"

Aris: "Tepat sekali. Seseorang yang sudah 'penuh' atau matang secara intelektual dan spiritual cenderung lebih tenang. Mereka merasa tidak punya sesuatu yang harus dibuktikan secara berlebihan kepada orang lain. Kepercayaan diri mereka datang dari dalam, bukan dari pengakuan orang asing di warung makan."

Danu: "Aku jadi teringat Pak Salim, tetangga kita yang pensiunan itu. Dia selalu diam, pakaiannya sederhana, tapi ternyata dia adalah profesor yang sudah menulis puluhan buku. Sangat kontras dengan pria di sebelah kita ini."

Aris: "Nah, Pak Salim itu contoh 'air tenang yang menghanyutkan'. Dia dalam, makanya dia tidak perlu 'beriak' atau berisik. Sebaliknya, orang yang terlalu banyak bicara seringkali melakukannya untuk menutupi kekurangan atau rasa tidak aman dalam dirinya."

Danu: "Benar juga ya. Terkadang kita terlalu sibuk ingin terlihat hebat sampai lupa untuk benar-benar menjadi hebat. Mungkin aku juga harus mulai belajar untuk lebih banyak mendengar daripada bicara."

Aris: "Itu langkah awal yang bagus, Nu. Menjadi tenang bukan berarti kita lemah atau tidak tahu apa-apa. Justru dalam ketenangan itu, kita bisa melihat segala sesuatu dengan lebih jernih."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....