Tren Baru Jepang: Menikah Tapi Memilih Tinggal Terpisah
- 21 Nov 2025 11:59 WIB
- Pontianak
KBRN, Pontianak: Di Jepang, muncul fenomena baru yang semakin banyak dibicarakan yaitu pasangan menikah yang memilih untuk tidak tinggal serumah. Mereka tetap sah sebagai suami-istri, tetapi menjalani kehidupan harian di tempat tinggal masing-masing.
Ada yang tinggal di apartemen berbeda, ada juga yang tinggal di kota berbeda karena pekerjaan. Menariknya, mereka biasanya hanya bertemu satu sampai dua kali dalam seminggu untuk menjaga kedekatan emosional tanpa menghilangkan ruang pribadi.
Tren ini bukan muncul tanpa alasan. Jepang dikenal sebagai negara dengan tekanan kerja yang tinggi, budaya individualisme yang kuat, serta tantangan ruang tinggal yang terbatas. Bagi sebagian pasangan, tinggal terpisah terasa lebih realistis dan lebih sehat secara mental. Mereka menganggap pernikahan tidak selalu harus berarti “hidup menempel 24 jam”, tetapi bisa dibangun dengan fleksibilitas yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Konsep ini dikenal sebagai “separate marriage” atau “weekend marriage”. Dalam praktiknya, suami dan istri memiliki tempat tinggal masing-masing yang sudah diatur dengan rutinitas pribadi.
Mereka bertemu secara terjadwal, biasanya di akhir pekan atau dua kali dalam seminggu, untuk menikmati waktu berkualitas. Banyak pasangan mengaku pola ini membuat hubungan lebih hangat karena pertemuan terasa spesial, bukan sekadar rutinitas harian.
Meski begitu, tren ini tak lepas dari pro dan kontra. Sebagian orang di Jepang menganggap pernikahan terpisah ini sebagai bentuk kebebasan modern, cara untuk bertanggung jawab pada diri sendiri sekaligus pada pasangan. Namun, ada juga yang merasa praktik seperti ini dapat menciptakan jarak emosional atau memicu ketidakstabilan hubungan jika tidak diatur dengan komunikasi yang baik.
Dari sisi psikologis, beberapa pakar berpendapat bahwa pernikahan terpisah bisa bekerja sangat baik bagi pasangan introvert atau mereka yang sudah terbiasa mandiri. Ruang pribadi membantu mereka memproses emosi, fokus pada pekerjaan, dan tetap menjalani hobi tanpa merasa terbatasi. Ketika bertemu dengan pasangan, mereka datang dengan energi positif, sehingga kualitas hubungan tetap terjaga.
Namun, tantangannya cukup jelas, yaitu komunikasi harus ekstra kuat. Karena tidak tinggal bersama, pasangan perlu memastikan bahwa kebutuhan emosional satu sama lain tetap terpenuhi. Mulai dari telepon rutin, pesan singkat harian, hingga pertemuan yang direncanakan dengan matang menjadi kunci agar hubungan tidak terasa jauh atau hambar. Kepercayaan juga menjadi fondasi penting dalam model pernikahan seperti ini.
Baca juga: Pentingnya Bimbingan Pra-Nikah bagi Calon Pengantin
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....