Kultur Kelana Jaga Budaya Lewat Konten Digital

  • 17 Okt 2025 22:16 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Program Jaga Malam yang disiarkan di Pro 2 Pontianak, 101,8 FM dan Kanal YouTube Pro Dua Pontianak pada Selasa malam, 14 Oktober 2025, menghadirkan dua tamu muda yang sedang hangat di media sosial, yaitu Hendi dan Reda, kreator di balik akun Kultur Kelana. Dipandu oleh penyiar Anwar, obrolan tersebut mengajak pendengar mengulik kisah dua anak muda Kota Pontianak yang menjelajahi akar budaya kotanya dengan cara yang segar dan akrab.

Keduanya menyebut Kota Pontianak sebagai tempat dengan ritme hidup yang menenangkan. Mereka menuturkan, dibanding kota besar lain, Pontianak memiliki pesona tersendiri, dari suasana yang kalem hingga kuliner yang tak tergantikan.

“Saya sering ke Malaysia, tapi kalau soal makanan, tetap enakan Pontianak,” ujar Hendi sambil tertawa.

Kecintaan pada kampung halaman itulah yang menjadi inspirasi lahirnya Kultur Kelana. Awalnya yang hanya kegiatan iseng dua sahabat yang gemar "berkelana", namun lama-kelamaan berkembang menjadi kanal edukasi budaya yang menghibur.

Reda mengisahkan, “Awalnya namanya bukan Kultur Kelana, tapi Kelana Club. Kita cuma pengin senang-senang bikin konten, tapi ternyata banyak yang nonton.”

Konten mereka dikenal lewat format “kenapa-kenapa”, seperti Kenapa Jeruju, Kenapa Jalan Karet, atau Kenapa Batu Layang. Melalui pendekatan ringan dan akrab, mereka mengajak warga Pontianak memahami asal-usul nama tempat, bahasa, dan kisah di balik tiap sudut kota. Dalam salah satu segmen.

“Jalan Karet dulu dikenal sebagai jalan tembus antara Jeruju dan Sungai Jawi, tempat yang dulu sempat dianggap angker,” kata Reda

Tak hanya sejarah, Kultur Kelana juga menghidupkan kembali kosakata khas Pontianak yang mulai jarang digunakan anak muda. Dari kata “anem” yang berasal dari istilah perusahaan listrik Belanda, hingga “kulu kilek” yang berarti mondar-mandir.

“Dengan konten ini, banyak orang Pontianak yang tinggal di luar negeri merasa terobati rindunya,” tutur Hendi, menceritakan pesan dari seorang pengikut mereka di Mesir.

Dalam obrolan, keduanya menyinggung peran konten sebagai alat distribusi pengetahuan budaya. Mereka menyadari, banyak anak muda kini kurang mengenal sejarah lokal bahkan tokoh penting di daerahnya.

“Banyak yang tidak tahu kenapa suatu tempat dinamai begitu. Padahal mereka tiap hari lewat situ,” ucap Reda.

Karena itu, mereka memanfaatkan platform digital seperti TikTok dan Instagram agar budaya bisa menjangkau khalayak yang lebih luas. Selain mengulas budaya, kanal Kultur Kelana juga menampilkan konten sosial seperti mengajak warga bermain, bekerja bersama, hingga berbagi keseruan sederhana di pasar malam. Aktivitas spontan ini menjadi ruang perjumpaan hangat antara budaya, hiburan, dan kehidupan sehari-hari.

“Kami pengin orang senang, bukan cuma dapat uang,” ujar Hendi

Menariknya, dari konten ringan itulah lahir ruang nostalgia dan kebanggaan bagi banyak orang Pontianak. Mengingatkan suasana kampung, bahasa ibu, dan kearifan lokal yang mungkin mulai pudar. Kultur Kelana menjadi bukti bahwa cinta budaya bisa hadir dengan cara yang modern tanpa kehilangan akar.

Baca juga: Relima dan Kampung Dongeng Hidupkan Literasi di Perbatasan

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....