Relima dan Kampung Dongeng Hidupkan Literasi di Perbatasan

  • 17 Okt 2025 20:17 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Acara “Nongkrong Bareng Pro 2” yang disiarkan langsung di 101,8 FM Pro 2 Pontianak dan kanal YouTube resmi RRI Pontianak sore Selasa, 14 Oktober 2025 lalu, mendatangkan tamu istimewa, yaitu Ega dan Pijah. Dua wanita cantik yang dikenal aktif dalam gerakan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) dan Kampung Dongeng Kalimantan Barat.

Obrolan tersebut mengajak pendengar menelusuri kisah dari garis perbatasan, di mana dongeng menjadi jembatan antara edukasi, kebudayaan, dan harapan. Ega menjelaskan bahwa Relima merupakan program nasional dari Perpustakaan Nasional RI yang bertujuan menguatkan literasi masyarakat di berbagai daerah, termasuk wilayah terluar seperti Singkawang. Ia sendiri menjadi perwakilan Relima untuk Kalimantan Barat yang fokus di wilayah tersebut.

Kampung Dongeng Kalimantan Barat, yang juga dipimpin oleh Ega, ikut mengambil bagian dalam upaya literasi ini. Bersama sejumlah relawan, mereka menjalankan roadshow dongeng ke daerah perbatasan seperti Jagoi Babang, Bengkayang, dan Aruk, Sambas.

“Tahun ini kami dapat kesempatan untuk mengunjungi dua titik perbatasan. Di sana, kami mendongeng di lima sekolah dalam satu hari,” ujar Ega dalam siaran tersebut.

Pijah menambahkan bahwa kegiatan tersebut tak hanya menyampaikan cerita saja, tapi juga membangun karakter anak-anak lewat nilai moral dan budaya lokal. Ia mengaku terkesan dengan sambutan anak-anak di perbatasan yang sangat antusias, meskipun sebagian belum terbiasa dengan bahasa Indonesia.

“Banyak anak-anak yang belum tahu cerita rakyat daerahnya sendiri. Ketika kami kisahkan, mereka baru menyadari bahwa kisah itu berasal dari tanah mereka sendiri,” katanya.

Selama dua hari pelaksanaan di masing-masing lokasi, tim menghadapi berbagai tantangan, mulai dari akses jalan yang sulit, sinyal komunikasi terbatas, hingga koordinasi dengan pihak sekolah. Namun, semua itu terbayar dengan senyum dan tawa anak-anak. Menurut Ega, antusiasme itu menjadi sumber semangat tersendiri bagi para relawan.

Tantangan terbesar justru muncul sebelum kegiatan berlangsung. Beberapa sekolah sempat menolak kunjungan karena khawatir ada pemeriksaan resmi. Namun, setelah dijelaskan bahwa kegiatan ini murni edukatif dan rekreatif, mereka akhirnya menerima dengan tangan terbuka. Setelah kegiatan, bahkan ada sekolah yang berharap tim Kampung Dongeng bisa datang setiap bulan.

Selain dongeng, kegiatan juga diisi dengan ice breaking, senam interaktif, hingga puppet show yang membuat anak-anak terhibur. Pertunjukan boneka ini menjadi daya tarik tersendiri karena dianggap sebagai hal baru di daerah tersebut.

“Anak-anak penasaran sekali, bahkan guru-guru ikut membantu saat kami tampil,” ujar Pijah.

Menurut kedua narasumber, kehadiran Kampung Dongeng di perbatasan bukan hanya hiburan, melainkan juga bentuk kepedulian terhadap warisan budaya lokal. Cerita rakyat seperti kisah Burung Ruai yang berasal dari Bengkayang menjadi contoh penting tentang bagaimana cerita daerah bisa memperkuat identitas anak-anak perbatasan.

Menutup perbincangan, Ega dan Pijah menyampaikan harapan agar kegiatan literasi dan dongeng dapat terus menjangkau daerah-daerah terpencil lainnya. Dengan dukungan dari berbagai pihak, mereka yakin dongeng bisa menjadi cara sederhana untuk menumbuhkan rasa cinta pada budaya sendiri sekaligus memperkuat karakter generasi muda di perbatasan.

Baca juga: Festival Dongeng Hidupkan Kembali Tradisi Lisan Perbatasan Kalbar

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....