Anak Muda dan Tantangan Etika Digital

  • 06 Okt 2025 07:02 WIB
  •  Pontianak

KBRN, Pontianak: Dalam suasana peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2025, program Toserba (Topik Serba Ada) di RRI Pro 2 Pontianak menghadirkan perbincangan menarik bertajuk “Pancasila vs Dunia Digital.” Edisi kali ini menghadirkan narasumber muda, Fatah, lulusan Hukum Keluarga Islam, bersama penyiar Krismi yang memandu jalannya obrolan hangat tentang relevansi nilai-nilai Pancasila di era media sosial.

Mengawali bincang pagi, Fatah menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya dasar kehidupan bernegara, melainkan juga pedoman moral dalam kehidupan sehari-hari. “Pancasila kalau menurut saya itu bukan hanya dia sebagai dasar daripada kehidupan bernegara, tapi menjadi dasar untuk kehidupan kita sehari-hari,” ujar Fatah.

Ia menambahkan, nilai-nilai seperti keberagaman, pemikiran yang baik, dan intelektualitas harus tetap dijaga, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap tak terbendung. Ketika disinggung soal kebiasaan bermedia sosial, Fatah mengaku aktif di beberapa platform seperti Instagram dan Facebook, namun tetap selektif dalam menyerap informasi.

“Mungkin 60 persen dari konten yang saya lihat itu mencerminkan nilai Pancasila. Kalau kurang mencerminkan biasanya saya skip langsung,” ungkapnya sambil tertawa ringan.

Menurutnya, sikap bijak dalam memilih informasi menjadi bentuk penerapan nilai kebijaksanaan sebagaimana terkandung dalam sila keempat Pancasila. “Pertama kita bijak sama diri kita sendiri. Saya ini harus ngapain sekarang? Saya ini buka ini nih harus apa aja yang perlu dibuka gitu,” ujarnya menekankan pentingnya pengendalian diri di ruang digital.

Fatah juga menyoroti maraknya penyebaran hoaks di media sosial yang berpotensi memecah belah masyarakat. Ia menilai, hal itu bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ketiga tentang Persatuan Indonesia.

“Ada kebijakan tertentu yang dapat merugikan kita semua karena beritanya tidak benar. Akhirnya masyarakat terpecah, padahal Indonesia harusnya bersatu,” tegasnya.

Lebih jauh, Fatah menilai media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi kebaikan, bukan tempat membuka aib atau menyebar kebencian. “Allah itu menutupi aib manusia. Kalau saya, ngapalah saya manusia buka aib sendiri,” tuturnya dengan nada tenang.

Ia juga mengingatkan bahwa banyak konten negatif justru cepat viral karena dianggap menarik perhatian publik. Oleh sebab itu, ia mendorong anak muda untuk menyeimbangkan dunia digital dengan menyebarkan hal-hal positif. “Hal-hal yang negatif itu naik, berarti hal-hal yang baik juga harus berjalan dengan sama,” kata Fatah.

Menutup perbincangan, Fatah berharap generasi muda bisa menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aktivitas digitalnya. “Anak muda yang kesehariannya di dunia digital, lakukan pembenahan terhadap konten. Kalau menonton, tonton sampai selesai biar tidak salah paham. Dan bagi pembuat kebijakan, berikanlah ruang bagi anak muda untuk menyalurkan pikirannya yang baik,” pesannya.

Baca juga: Memaknai Kesaktian Pancasila Dalam Perspektif Agama Islam

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....