Perempuan Jadi Pilar Moderasi Beragama, Ini Peran Strategisnya

  • 22 Apr 2026 22:43 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Peran perempuan kembali disorot sebagai kekuatan penting dalam membangun masyarakat yang harmonis. Hal ini mengemuka dalam dialog yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 1 Pontianak, yang membahas kontribusi perempuan dalam mewujudkan moderasi beragama, Selasa, 21 April 2026.

Narasumber, Hj. Enny Kurniaty, S.Ag., menegaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengubah ajaran agama, melainkan cara pandang dan sikap dalam menjalankannya.

“Moderasi beragama itu bukan agamanya yang dimoderasikan, tetapi cara pandang dan sikap kita dalam beragama agar tidak berlebihan, tidak ekstrem kanan maupun kiri, serta mengedepankan toleransi,” kata Enny.

Menurutnya, perempuan memiliki posisi strategis karena berperan sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Ia menyebut ibu sebagai “madrasatul ula” atau sekolah pertama bagi anak-anak.

“Dari seorang ibu akan lahir generasi. Sentuhan perempuan mampu membentuk karakter anak menjadi pribadi yang lemah lembut, penuh toleransi, dan menghargai perbedaan,” ujarnya.

Dalam praktik sehari-hari, moderasi beragama diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, serta bersikap adil dalam menyikapi berbagai pandangan. Perempuan, kata Enny, berperan besar dalam menanamkan nilai tersebut sejak dini di lingkungan keluarga.

Namun, ia juga mengakui adanya tantangan, terutama di era digital saat ini. Arus informasi yang cepat, termasuk penyebaran paham ekstrem dan hoaks, menjadi ancaman yang harus dihadapi secara bijak.

“Perempuan harus bijak menggunakan media sosial, tidak menyebarkan ujaran kebencian, dan justru menghadirkan konten yang menyejukkan serta mendidik,” katanya.

Selain itu, masih adanya stereotip gender dan keterbatasan akses pendidikan menjadi hambatan bagi perempuan untuk berperan lebih luas di ruang publik. Meski demikian, kondisi saat ini dinilai semakin membaik, dengan semakin banyak perempuan terlibat dalam organisasi, pendidikan, hingga pengambilan keputusan.

Enny juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perempuan dan laki-laki dalam memperkuat moderasi beragama.

“Tidak bisa hanya satu pihak. Harus ada keseimbangan peran antara perempuan dan laki-laki agar tercipta kehidupan yang harmonis,” katanya, menambahkan.

Ia berharap perempuan terus meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan dan literasi, serta aktif berkontribusi dalam menjaga kerukunan masyarakat.

“Perempuan bukan sekadar pelengkap, tetapi penentu arah peradaban. Dengan kelembutan dan kasih sayang, perempuan mampu menjaga kedamaian dalam kehidupan,” ucapnya.

Baca juga: Sarri Indra, Persit Berkarya Menginspirasi lewat Karya Nyata

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....