Iffah Benteng Iman di Tengah Godaan Zaman

  • 03 Feb 2026 10:42 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak – Di tengah derasnya arus digital, mudahnya akses hiburan, serta terbukanya pintu maksiat dari genggaman tangan, umat Islam diingatkan untuk kembali meneguhkan satu akhlak mulia yang kian terpinggirkan, yakni iffah. Hal itu disampaikan Ustadz Hamidurrahman, S.Pd.I dalam tausiyah singkatnya, di acara Hikmah Pagi Agama Islam, Selasa, 03 Januari 2026, yang disiarkan RRI Pro Pontianak.

Ustadz Hamidurrahman menjelaskan, iffah secara bahasa berarti menjaga diri dan menahan jiwa dari hal-hal yang hina. Sementara secara istilah, iffah adalah kemampuan seseorang menjaga kehormatan diri dari yang haram, baik dalam pandangan, lisan, syahwat, maupun harta.

“Iffah itu bukan sekadar menutup aurat dan bukan hanya soal hubungan laki-laki dan perempuan, tetapi mencakup pandangan, lisan, perut, harta, bahkan hati dan pikiran,” ujarnya.

Menurutnya, iffah merupakan perintah langsung dari Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang yang belum mampu menikah diwajibkan menjaga kesucian diri hingga Allah memberi kemampuan. Hal ini menegaskan bahwa menjaga diri bukan pilihan, melainkan kewajiban iman.

Ia menambahkan, orang yang memiliki iffah bukan berarti tidak memiliki nafsu, melainkan mampu mengendalikannya agar tunduk pada akal dan syariat.

“Orang yang iffah itu bukan orang yang tidak punya nafsu, tapi mereka yang mampu mengendalikan nafsunya,” tegasnya.

Ustadz Hamidurrahman juga menyoroti realitas zaman kini, di mana maksiat tidak lagi dicari, tetapi justru datang sendiri melalui gawai. Hal-hal yang haram sering dikemas menarik dan diberi label kebebasan, sementara menjaga diri justru dianggap ketinggalan zaman. Ia mencontohkan keteladanan Nabi Yusuf AS sebagai gambaran nyata iffah sejati. Meski berada dalam kondisi sepi dan kesempatan terbuka, Nabi Yusuf memilih berlindung kepada Allah SWT.

“Tidak ada manusia yang melihat, tapi Allah maha melihat. Dari situlah Allah mengangkat derajat Nabi Yusuf,” jelasnya.

Untuk menumbuhkan iffah, ia mengajak umat Islam memperkuat rasa diawasi Allah (muraqabah), menjaga salat, membatasi pandangan dan tontonan, memperbanyak puasa sunnah, memilih lingkungan yang saleh, serta memperbanyak doa. Ustadz Hamidurrahman menegaskan, iffah adalah perhiasan iman, penjaga kehormatan, dan sebab turunnya keberkahan hidup. Ia mengingatkan agar umat tidak putus asa meski belum mampu menjaga diri secara sempurna.

“Jika hari ini kita belum mampu menjaganya dengan baik, jangan putus asa. Pintu tobat Allah selalu terbuka, dan Allah mencintai hamba yang ingin memperbaiki diri,” pungkasnya, mengakhiri.

Baca juga: Awas Kesyirikan dan Bahaya Hilangnya Amal

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....