Bahasa Daerah, Identitas yang Perlu Dirawat
- 28 Jan 2026 21:01 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Selain sebagai alat komunikasi, bahasa daerah adalah penanda siapa kita dan dari mana kita berasal. Hal inilah yang menjadi benang merah perbincangan dalam program Insightainment yang disiarkan Pro 2 RRI Pontianak, Senin 26 Januari 2026, melalui studio siaran dan kanal YouTube, menghadirkan obrolan santai namun bermakna seputar kebanggaan berbahasa daerah.
Dalam siaran tersebut, penyiar tamu Wawan Mahendra dan Ilma Suciana dari Ikatan Duta Bahasa Provinsi Kalimantan Barat mengajak pendengar menengok kembali posisi bahasa daerah di tengah arus globalisasi yang semakin cepat. Mereka menekankan bahwa keberagaman bahasa adalah kekayaan Indonesia yang tidak boleh dipandang sebagai penghalang, melainkan kekuatan identitas.
Indonesia sendiri tercatat memiliki ratusan bahasa daerah yang hidup di tengah masyarakat. Kondisi geografis dan budaya yang beragam membuat setiap daerah memiliki ciri khas bahasa, logat, dan ungkapan yang unik. Dari situlah, bahasa daerah menjadi penanda kultural yang membedakan sekaligus menyatukan.
Ilma Suciana, yang berasal dari kabupaten Sambas, berbagi pengalamannya menggunakan bahasa Melayu Sambas sebagai bahasa ibu. Menurutnya, bahasa daerah bukan hanya bagian dari budaya, melainkan juga cara mengenali karakter dan latar seseorang. Bahasa mencerminkan sikap, pembawaan, serta nilai-nilai yang tumbuh di lingkungan asal penuturnya.
Sementara itu, Wawan Mahendra yang berasal dari Ketapang dan memiliki latar bahasa Dayak mengulas tentang pentingnya rasa bangga sebelum upaya pelestarian dilakukan. Ia menilai, banyak anak muda enggan menggunakan bahasa daerah karena takut dianggap berbeda. Padahal, keberanian menggunakan bahasa daerah justru menjadi bentuk penerimaan terhadap jati diri sendiri.
Percakapan juga menyinggung peran bahasa daerah dalam dunia pendidikan. Dalam konteks tertentu, penggunaan bahasa daerah dinilai membantu proses pembelajaran, terutama bagi anak-anak yang belum sepenuhnya menguasai bahasa Indonesia. Pendekatan bahasa yang fleksibel dianggap lebih efektif selama disesuaikan dengan kondisi peserta didik.
Di era digital, keduanya sepakat bahwa teknologi dapat menjadi alat pelestarian yang efektif. Media sosial, video pendek, musik, dan konten kreatif dinilai mampu menjembatani bahasa daerah dengan generasi muda. Ketika bahasa daerah dikemas secara menarik, ia justru berpeluang dikenal lebih luas, bahkan lintas daerah.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan sederhana namun kuat: bahasa daerah adalah identitas. Menjaganya berarti merawat asal-usul, sekaligus menunjukkan kebanggaan sebagai bagian dari keberagaman Indonesia. Di tengah dunia yang terus bergerak maju, mengenal dan menggunakan bahasa daerah menjadi cara untuk tetap berpijak pada akar.
Baca juga: Apa yang Terjadi pada Bahasa Kita?
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....